X dan Situs BMKG Tumbang Serentak, Diduga Imbas Masalah Cloudflare

X dan Situs BMKG Tumbang Serentak, Diduga Imbas Masalah Cloudflare

ANGIN BERITA – Sejumlah situs dan platform yang menggunakan Cloudflare dalam infrastrukturnya mengalami down pada Selasa (18/11) malam. Lebih dari 1.000 laporan down terkait Cloudflare masuk ke platform tersebut. Sementara itu, platform X dilaporkan mengalami down oleh lebih dari 700 pengguna.

Gangguan ini terjadi hampir bersamaan dengan laporan global mengenai masalah besar yang dialami oleh Cloudflare salah satu penyedia infrastruktur web dan keamanan siber terbesar di dunia. Meskipun konfirmasi resmi masih ditunggu, dugaan kuat mengarah pada kegagalan konfigurasi atau masalah jaringan di sisi Cloudflare yang menyebabkan outage massal ini.

Laporan melalui situs pemantau DownDetector menunjukkan lonjakan laporan masalah dimulai sekitar pukul 20.00 WIB, dengan ribuan pengguna di Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya melaporkan kesulitan mengakses berbagai layanan, mulai dari media sosial hingga layanan esensial.

Respons Cloudflare

Dalam pembaruan pada halaman statusnya, Cloudflare menyatakan telah menerapkan perbaikan untuk mengatasi masalah tersebut. Kendati begitu, mereka menyebut beberapa pengguna mungkin masih mengalami kesulitan mengakses dasbor online mereka.

“Kami terus memantau kesalahan untuk memastikan semua layanan kembali normal,” kata Cloudfare dalam pernyataannya.
Juru bicara Cloudflare mengatakan bahwa perusahaan mendeteksi lonjakan traffic yang tidak biasa ke salah satu layanannya, yang menyebabkan beberapa traffic yang melewati jaringan mereka mengalami kesalahan. “Kami belum mengetahui penyebab lonjakan traffic yang tidak biasa ini. Kami sedang bekerja keras untuk memastikan semua traffic dilayani tanpa kesalahan,” tuturnya.

Imbas Gangguan Global dan Kepentingan Nasional

Dampak dari gangguan ini terasa sangat signifikan di Indonesia, memengaruhi sektor-sektor vital:

1. Situs BMKG Lumpuh: Gangguan Informasi Publik Kritis

Pemadaman pada situs BMKG (bmkg.go.id) menjadi perhatian serius. Di tengah musim hujan dan ancaman bencana hidrometeorologi, akses publik terhadap informasi cuaca, peringatan dini, dan data gempa menjadi sangat penting.

“Ketika situs BMKG tidak bisa diakses, kami benar-benar buta informasi. Padahal, kita sedang berada di masa puncak musim hujan. Ini menunjukkan betapa rentannya layanan publik kita jika sangat bergantung pada satu penyedia infrastruktur cloud,” ujar Dr. Ratna Dewi, seorang ahli mitigasi bencana dari Universitas Gadjah Mada.

2. X, Platform Komunikasi Kritis, Terhenti

Seperti laporan global sebelumnya, platform X tidak dapat memuat feed, yang melumpuhkan komunikasi cepat dan arus berita mendadak. Di Indonesia, X sering menjadi saluran pertama untuk informasi darurat, khususnya selama jam-jam krusial malam hari.

3. Sektor Keuangan Terdampak

Gangguan ini juga dirasakan oleh beberapa penyedia layanan perbankan digital dan fintech. Meskipun core banking utama mungkin tidak terpengaruh, interface (antarmuka) layanan pelanggan, aplikasi seluler, dan website beberapa bank dilaporkan mengalami latency atau kesulitan login, memicu kepanikan kecil di kalangan nasabah yang sedang melakukan transaksi online.

Cloudflare: Sumber Masalah Sentral yang Diperkirakan

Pihak teknis dan ahli keamanan siber segera menunjuk ke Cloudflare sebagai sumber utama dari kekacauan digital ini. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Cloudflare mengeluarkan pengumuman di halaman statusnya, mengonfirmasi adanya masalah pada jaringan mereka.

Masalah tersebut diduga sama dengan insiden yang terjadi beberapa jam sebelumnya kegagalan konfigurasi BGP (Border Gateway Protocol) atau software update yang tidak sempurna di data center utama, yang kemudian menyebar ke seluruh jaringan global, termasuk server yang melayani lalu lintas web di Asia Tenggara.

Ketika sebuah layanan digital menggunakan Cloudflare untuk CDN (Content Delivery Network) atau proteksi DDoS (Distributed Denial of Service), kegagalan di sisi Cloudflare akan membuat website tersebut tidak dapat dijangkau oleh pengguna akhir, meskipun server asli website itu sendiri berfungsi normal.

“Fenomena ini menunjukkan korelasi yang sangat kuat dengan kegagalan pada Cloudflare. Banyak website penting di Indonesia, baik swasta maupun pemerintah, memilih Cloudflare karena alasan keamanan dan kecepatan. Namun, insiden ini adalah trade-off dari sentralisasi: satu kegagalan bisa melumpuhkan banyak layanan vital sekaligus,” jelas Bambang Herlambang, seorang konsultan infrastruktur cloud independen.