Taktik Balasan Taiwan Kunci Jet China dengan Radar Pasif & Latihan Militer

Taktik Balasan Taiwan: Kunci Jet China dengan Radar Pasif & Latihan Militer

ANGIN BERITA – Eskalasi di Selat Taiwan mencapai titik didih tertinggi di penghujung tahun 2025. Menanggapi latihan tempur besar-besaran yang digelar China dengan sandi “Justice Mission 2025”, militer Taiwan (ROCAF) dilaporkan telah mengaktifkan protokol pertahanan agresif. Salah satu taktik paling menonjol yang dilakukan Taipei adalah pengerahan sistem pelacakan canggih yang mampu “mengunci” pesawat militer China tanpa memicu radar peringatan mereka, sebuah manuver yang disebut sebagai persiapan “silent kill”.

Latihan Justice Mission 2025 dan Kepungan China

Ketegangan ini bermula ketika Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China mengumumkan latihan militer skala penuh pada Senin, 29 Desember 2025. Latihan ini merupakan respons keras Beijing atas pengumuman paket penjualan senjata Amerika Serikat senilai USD 11,1 miliar kepada Taiwan serta pernyataan diplomatik dari Jepang yang dianggap mendukung kemerdekaan pulau tersebut.

Dalam latihan ini, China mengerahkan sedikitnya 130 jet tempur, termasuk jet siluman J-20 dan pembom H-6, serta 14 kapal perang yang mensimulasikan blokade total terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Taiwan. Wilayah latihan mencakup lima zona yang mengepung Taiwan, bahkan beberapa di antaranya berada di dalam wilayah perairan teritorial Taiwan (12 mil laut dari pantai).

Taktik Balasan: Mengunci Tanpa Terdeteksi

Taiwan tidak tinggal diam. Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan (MND) segera merespons dengan mengerahkan jet tempur Mirage 2000 dan F-16V yang telah dimodernisasi. Namun, yang menjadi sorotan adalah penggunaan sistem Electro-Optical Tracking (EOTS).

Berdasarkan laporan pakar militer di Taipei, jet tempur Taiwan berhasil melacak dan “mengunci” posisi jet tempur J-16 China menggunakan sensor inframerah dan visual jarak jauh. Berbeda dengan radar konvensional yang memancarkan sinyal gelombang radio, sistem elektro-optik ini bersifat pasif. Artinya, pilot China tidak akan menerima peringatan pada Radar Warning Receiver (RWR) mereka bahwa mereka sedang dibidik.

Taktik ini memberikan keunggulan psikologis dan taktis bagi Taiwan. Dengan “mengunci” pesawat lawan secara diam-diam, Taiwan menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk meluncurkan serangan rudal jarak pendek maupun menengah sebelum musuh menyadari keberadaan mereka.

Latihan Tandingan dan Mobilisasi HIMARS

Selain di udara, militer Taiwan juga menggelar latihan respons cepat di darat dan laut. Pasukan roket Taiwan dikerahkan ke pesisir strategis, termasuk penempatan sistem roket HIMARS buatan AS yang memiliki jangkauan hingga 300 kilometer. Posisi ini memungkinkan Taiwan untuk menjangkau pangkalan-pangkalan militer di Provinsi Fujian, China, jika situasi berubah menjadi konflik terbuka.

“Kami memantau setiap pergerakan melalui sistem pengawasan gabungan intelijen. Kami tidak mencari konflik, tapi kami tidak akan mundur sedikit pun dalam melindungi kedaulatan kami,” tegas Letnan Jenderal Hsieh Jih-sheng, Wakil Direktur Biro Intelijen MND Taiwan.

Dampak Sipil dan Protes Internasional

Latihan perang ini tidak hanya berdampak pada militer, tetapi juga melumpuhkan jalur transportasi sipil. Otoritas penerbangan Taiwan melaporkan lebih dari 850 penerbangan internasional terganggu dan sekitar 6.000 penumpang domestik terlantar akibat zona bahaya yang ditetapkan China.

Kecaman internasional pun berdatangan. Australia dan Jepang menyebut tindakan China sebagai langkah “provokatif dan ceroboh” yang mengancam stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Di sisi lain, Beijing melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Lin Jian, membalas kritik tersebut dengan menyebut negara-negara pendukung Taiwan sebagai “munafik” dan menegaskan bahwa latihan tersebut adalah hak berdaulat China untuk mencegah separatisme.

Kondisi Terkini: Siaga Tinggi di Ambang Tahun Baru

Hingga Rabu, 31 Desember 2025, China mengklaim telah “berhasil menyelesaikan” misi latihan mereka dan mulai menarik sebagian besar kapal perangnya. Namun, Taiwan tetap berada dalam status siaga tinggi. Coast Guard Taiwan (CGA) masih menyiagakan 11 kapal besar di perairan sensitif karena beberapa kapal penjaga pantai China dilaporkan masih berada di sekitar garis tengah Selat Taiwan.

Situasi di akhir tahun 2025 ini menunjukkan bahwa pola “normal baru” di Selat Taiwan telah bergeser dari sekadar intimidasi udara menjadi simulasi blokade nyata, yang diimbangi dengan taktik pertahanan teknologi tinggi oleh Taiwan untuk mempertahankan keseimbangan kekuatan di kawasan tersebut.