ANGIN BERITA – Pemerintah Provinsi Quebec, Kanada, menyatakan kesiapan berkolaborasi dengan pelaku usaha Indonesia di sektor teknologi tinggi dan energi terbarukan, kata KBRI Ottawa dalam pernyataan persnya yang diterima di Jakarta, Jumat.
Quebec disebut siap mengundang pengusaha Indonesia ke kawasan mikroelektronik dan semikonduktor di Bromont, industri dirgantara di Montreal, pengembangan energi baru dan terbarukan di Bécancour, serta pusat quantum computing dan perangkat lunak di Sherbrooke.
Duta Besar RI untuk Kanada Muhsin Syihab mengatakan pihaknya akan memperkuat dialog dengan Quebec dan menggali peluang di sektor unggulan Indonesia.
Ia menilai momentum pasca-penandatanganan ICA-CEPA harus dimanfaatkan untuk memperdalam kolaborasi bilateral. Dubes juga mengimbau pelaku usaha Indonesia untuk aktif menjajaki kerja sama di sektor strategis Quebec.
Secara statistik, hubungan perdagangan Indonesia–Quebec telah mencatat tren positif. Pada 2024, nilai perdagangan bilateral mencapai US$ 383,33 juta, di mana ekspor utama Indonesia ke Quebec meliputi sampah logam (waste and scrap metal), lemak kakao, dan karet alam. Sementara impor utama dari Quebec adalah kacang kedelai.
Tak hanya itu, Quebec dikenal sebagai pusat inovasi global. Provinsi ini menjadi rumah bagi perusahaan-perusahaan teknologi dan digital besar, seperti Google, Microsoft, Ubisoft, Electronic Arts, serta studio animasi dan game lainnya.
Selain sektor digital, Quebec juga punya keunggulan dalam produksi mineral kritis. Provinsi ini kaya akan litium, grafit, titanium, kobalt, dan nikel — bahan baku strategis untuk mendukung transisi ke energi hijau. Hal ini menjadikan Quebec sangat relevan bagi Indonesia, yang tengah mempercepat upaya dekarbonisasi ekonomi.
Dalam menghadapi peluang ini, Dubes Muhsin mengimbau pengusaha Indonesia agar tidak hanya fokus pada ekspor komoditas tradisional, tetapi juga menjajaki investasi teknologi tinggi di Quebec. “Quebec membuka karpet merah bagi pelaku usaha Indonesia,” sebutnya.
Sementara itu, untuk memperkuat fondasi kerjasama jangka panjang, aspek akademik dan riset juga menjadi bagian dari strategi bilateral. Sebelumnya Dubes Muhsin telah mendorong kerja sama antara perguruan tinggi Indonesia dengan universitas-universitas di Quebec dan Kanada.
Pada akhirnya, kerja sama teknologi tinggi Quebec–Indonesia bukan hanya soal ekspor dan investasi. Ini juga tentang membangun kemitraan masa depan di mana inovasi, keberlanjutan, dan pertumbuhan inklusif menjadi fondasi. Dengan momentum ICA‑CEPA dan komitmen kedua belah pihak, kolaborasi ini memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi tonggak baru dalam hubungan bilateral Indonesia–Kanada.

