ANGIN BERITA – Perdana Menteri Thailand secara tegas membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan bahwa Thailand dan Kamboja telah mencapai kesepakatan gencatan senjata. Pemerintah Thailand menegaskan bahwa operasi militer terhadap Kamboja akan terus berlanjut selama ancaman terhadap keamanan nasional dan wilayah kedaulatan Thailand masih berlangsung.
Klaim Trump sebelumnya disampaikan melalui pernyataan publik dan media sosial, di mana ia mengatakan bahwa kedua negara telah sepakat menghentikan pertempuran setelah dilakukan komunikasi intensif antara para pemimpin. Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah oleh Bangkok. Perdana Menteri Thailand menegaskan bahwa tidak ada gencatan senjata yang berlaku dan situasi di lapangan masih diwarnai bentrokan bersenjata.
Dalam pernyataan resminya, PM Thailand menyebut klaim Trump tidak mencerminkan realitas di perbatasan. Ia menegaskan bahwa pasukan Thailand masih terlibat dalam operasi militer aktif untuk menghadapi apa yang disebutnya sebagai pelanggaran dan serangan berulang dari pihak Kamboja. Pemerintah Thailand menilai langkah militer tersebut sebagai bentuk pembelaan diri dan perlindungan terhadap warga sipil di wilayah perbatasan.
Ketegangan antara Thailand dan Kamboja meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir, menyusul bentrokan bersenjata di kawasan perbatasan yang telah lama disengketakan. Wilayah tersebut memang memiliki sejarah konflik panjang, terutama terkait penentuan batas wilayah dan klaim kedaulatan. Bentrokan terbaru melibatkan penggunaan artileri berat dan, menurut sejumlah laporan, juga serangan udara terbatas.
Akibat eskalasi konflik ini, korban jiwa terus bertambah. Beberapa prajurit dari kedua belah pihak dilaporkan tewas, sementara warga sipil menjadi pihak yang paling terdampak. Ribuan hingga ratusan ribu warga di desa-desa perbatasan terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke wilayah yang lebih aman. Fasilitas umum, rumah penduduk, dan lahan pertanian dilaporkan mengalami kerusakan akibat tembakan dan ledakan.
Sementara itu, pemerintah Kamboja juga membantah klaim bahwa konflik telah mereda. Phnom Penh menuduh Thailand tetap melancarkan serangan meskipun sudah ada upaya diplomatik dari pihak luar. Kamboja menyatakan pihaknya masih terbuka terhadap penyelesaian damai, namun menuntut penghentian serangan militer Thailand sebagai syarat utama.
Presiden AS Donald Trump mengklaim telah berperan sebagai mediator dengan melakukan komunikasi langsung dengan pemimpin Thailand dan Kamboja. Ia menyatakan bahwa kedua pihak sepakat untuk menghentikan pertempuran dan kembali pada jalur dialog. Namun, perbedaan tajam antara klaim tersebut dan pernyataan resmi dari kedua negara Asia Tenggara itu menimbulkan kebingungan di kalangan komunitas internasional.
Para pengamat menilai klaim Trump terlalu prematur dan tidak didukung oleh kesepakatan formal di lapangan. Hingga kini, belum ada pengumuman bersama atau dokumen resmi yang menandai dimulainya gencatan senjata. Bentrokan yang masih terjadi menjadi bukti bahwa upaya mediasi belum membuahkan hasil konkret.
Di tingkat regional, sejumlah negara ASEAN menyerukan agar kedua pihak menahan diri dan mengutamakan dialog. Namun, Thailand menegaskan bahwa stabilitas dan keselamatan nasional tetap menjadi prioritas utama. Pemerintah Thailand menyatakan akan terus melakukan evaluasi situasi keamanan, tetapi menolak tekanan internasional yang dianggap mengabaikan ancaman nyata di lapangan.
Konflik ini juga berdampak pada dinamika politik domestik Thailand. Sikap keras pemerintah mendapat dukungan dari sebagian masyarakat yang menilai langkah militer perlu dilakukan untuk menjaga kedaulatan negara. Namun, kelompok masyarakat sipil dan organisasi kemanusiaan menyuarakan kekhawatiran atas dampak berkepanjangan terhadap warga sipil dan stabilitas kawasan.
Para analis menilai konflik Thailand–Kamboja kali ini berpotensi menjadi krisis regional jika tidak segera dikelola secara hati-hati. Ketidaksinkronan pernyataan antara aktor internasional dan pemerintah di kawasan menunjukkan tantangan besar dalam diplomasi konflik Asia Tenggara.
Hingga saat ini, situasi di perbatasan masih tegang. Perdana Menteri Thailand menegaskan kembali bahwa operasi militer hanya akan dihentikan jika pihaknya yakin tidak ada lagi ancaman terhadap wilayah dan rakyat Thailand. Dengan demikian, klaim gencatan senjata yang disampaikan Donald Trump belum memiliki dampak nyata di lapangan, sementara konflik bersenjata masih terus berlangsung.

