ANGIN BERITA – Kawasan Silang Monas hingga depan Istana Merdeka hari ini dipadati oleh massa dari berbagai komunitas pengemudi ojek online (ojol) dan kurir logistik se-Jabodetabek. Aksi unjuk rasa yang berlangsung sejak pagi hari ini bertujuan untuk menyuarakan aspirasi terkait ketidakadilan tarif dan kurangnya perlindungan hukum bagi para mitra pengemudi.
Guna mengantisipasi terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), pihak kepolisian telah menyiagakan ribuan personel di titik-titik krusial. Tercatat sebanyak 1.541 personel gabungan dari unsur TNI, Polri, serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dikerahkan untuk mengawal jalannya aksi.
Pengamanan Ketat dan Pengalihan Arus Lalu Lintas
Kapolres Metro Jakarta Pusat menyatakan bahwa ribuan personel tersebut ditempatkan di beberapa titik strategis, mulai dari area Monas, Patung Kuda, hingga akses menuju jalan Medan Merdeka Utara. Pengamanan dilakukan secara humanis namun tetap tegas guna memastikan aspirasi tersampaikan tanpa mengganggu fasilitas umum.
“Kami mengedepankan pendekatan persuasif. Fokus utama kami adalah memastikan aksi berjalan damai dan arus lalu lintas di sekitar Jakarta Pusat tetap bisa bergerak meski ada konsentrasi massa,” ujar perwakilan pihak kepolisian di lokasi.
Seiring dengan bertambahnya jumlah massa yang datang menggunakan sepeda motor dan atribut lengkap, pihak Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta bersama Satlantas Polres Metro Jakarta Pusat juga memberlakukan rekayasa lalu lintas situasional. Ruas jalan menuju Jalan Medan Merdeka Barat telah ditutup sementara dan dialihkan ke arah Jalan Abdul Muis atau arah Lapangan Banteng.
Tuntutan Utama: Tarif Adil dan Status Hukum
Aksi demo kali ini bukan tanpa alasan. Para pengemudi ojol yang tergabung dalam berbagai koalisi merasa bahwa kondisi ekonomi saat ini semakin menghimpit, sementara potongan komisi dari aplikator dianggap terlalu besar. Ada beberapa poin utama yang menjadi tuntutan para demonstran hari ini:
- Revisi Tarif Layanan: Massa menuntut pemerintah untuk mengevaluasi kembali tarif per kilometer yang saat ini dinilai terlalu rendah dan tidak sebanding dengan biaya operasional serta inflasi.
- Penurunan Potongan Aplikator: Para pengemudi mengeluhkan potongan biaya sewa aplikasi yang mencapai 20% hingga 30%, yang menurut mereka sangat merugikan mitra di lapangan.
- Legalisasi Profesi Ojol: Peserta aksi mendesak DPR dan Pemerintah untuk segera mengesahkan payung hukum yang jelas bagi pengemudi ojol agar memiliki status hukum yang kuat, bukan sekadar “mitra” yang posisinya sering kali lemah dalam perjanjian kerja.
- Keadilan bagi Kurir: Selain ojek penumpang, kurir logistik juga menuntut standarisasi tarif pengiriman barang yang saat ini dianggap mengalami perang harga antar-platform.
Suara dari Lapangan
Salah satu orator aksi di atas mobil komando menegaskan bahwa aksi ini adalah akumulasi dari rasa kecewa para pengemudi terhadap kebijakan perusahaan aplikator yang dinilai kurang berpihak pada kesejahteraan mitra.
“Kami setiap hari kepanasan, kehujanan, dan menantang bahaya di jalanan. Tapi apa yang kami bawa pulang ke rumah semakin hari semakin sedikit karena potongan yang besar dan tarif yang murah. Kami butuh regulasi yang melindungi kami, bukan hanya memanjakan perusahaan,” teriak salah satu pengemudi melalui pengeras suara.
Kondisi di lapangan terpantau cukup padat namun tetap kondusif. Massa membawa berbagai spanduk dan poster berisi kecaman terhadap kebijakan “tarif hemat” yang dianggap sebagai cara terselubung untuk memangkas pendapatan pengemudi.
Dampak pada Layanan Transportasi Online
Akibat adanya aksi massa dalam skala besar ini, para pengguna jasa transportasi online di wilayah Jakarta melaporkan adanya kesulitan untuk mendapatkan driver (pick-up). Beberapa aplikasi menunjukkan status “permintaan tinggi” yang berdampak pada kenaikan harga (surge pricing) bagi konsumen di sekitar lokasi demo.
Pihak asosiasi pengemudi sebelumnya memang telah memberikan imbauan untuk melakukan “off bid” atau mematikan aplikasi sementara sebagai bentuk solidaritas terhadap rekan-rekan yang berjuang di lapangan.
Harapan Adanya Audiensi
Hingga siang ini, perwakilan massa aksi masih mengupayakan untuk bisa masuk ke dalam area Istana atau setidaknya bertemu dengan pejabat kementerian terkait untuk menyerahkan petisi tuntutan mereka. Mereka berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap nasib jutaan pengemudi ojol yang menjadi tulang punggung transportasi perkotaan.
Pihak kepolisian pun terus berupaya memfasilitasi agar komunikasi antara massa aksi dan pihak terkait bisa berjalan lancar tanpa harus terjadi bentrokan.
“Kami berharap massa tetap tertib hingga aksi berakhir sore nanti. Personel kami akan tetap berjaga hingga seluruh peserta aksi membubarkan diri dengan aman,” tutup Kapolres Metro Jakarta Pusat.
Demonstrasi ini menjadi pengingat bagi para pemangku kepentingan bahwa di balik kemudahan teknologi transportasi online, terdapat isu kesejahteraan pekerja yang masih memerlukan solusi konkret dan regulasi yang adil.

