Mantan Miliarder Rusia Bongkar Cara Putin Menjinakkan Para Pengusaha

Mantan Miliarder Rusia Bongkar Cara Putin “Menjinakkan” Para Pengusaha

ANGIN BERITA – Selama lebih dari dua dekade, hubungan antara Kremlin dan para pengusaha kaya Rusia yang dikenal sebagai oligarki telah mengalami transformasi yang drastis. Jika pada tahun 1990-an para pengusaha ini mampu mendikte kebijakan negara, kini di bawah kepemimpinan Vladimir Putin, posisinya berbalik total. Melalui kesaksian beberapa mantan miliarder yang kini berada di pengasingan, terungkap mekanisme kompleks bagaimana Putin memastikan dukungan tanpa syarat dari elit bisnis Rusia, terutama di tengah tekanan perang yang berkepanjangan.

Ancaman sebagai Fondasi Loyalitas

Salah satu poin utama yang diungkap oleh para mantan orang dalam Kremlin, termasuk tokoh seperti Oleg Tinkov (pendiri Tinkoff Bank) dan Sergei Pugachev (yang sempat dijuluki “Bankir Putin”), adalah bahwa loyalitas di Rusia bukan lagi pilihan, melainkan syarat untuk bertahan hidup secara finansial.

Strategi Putin sangat jelas: siapa pun yang ingin tetap kaya di Rusia harus mendukung agenda negara. Bagi mereka yang mencoba bersikap netral atau menunjukkan keraguan terhadap “Operasi Militer Khusus” di Ukraina, konsekuensinya adalah kehilangan aset dalam semalam. Tinkov, misalnya, mengaku dipaksa menjual kepemilikan banknya dengan harga jauh di bawah nilai pasar setelah ia mengunggah kritik terhadap perang di media sosial.

“Ini adalah sistem sandera,” ujar seorang mantan eksekutif energi yang kini tinggal di Eropa. “Aset Anda di Rusia adalah jaminan atas perilaku Anda. Jika Anda bicara terlalu banyak, perusahaan Anda akan menghadapi audit pajak yang mustahil, tuduhan penipuan, atau nasionalisasi.”

Hadiah dari Eksodus Perusahaan Barat

Selain ancaman, Putin juga menggunakan metode “imbalan” yang sangat menggiurkan. Ketika perusahaan-perusahaan Barat seperti McDonald’s, Starbucks, hingga raksasa otomotif seperti Renault meninggalkan Rusia, mereka meninggalkan infrastruktur bernilai miliaran dolar.

Kremlin mengarahkan penjualan aset-aset ini kepada para pengusaha yang terbukti setia. Dengan membeli bisnis yang sudah jadi dengan harga diskon hingga 90%, para loyalis ini mendapatkan keuntungan instan yang luar biasa. Hal ini menciptakan kelas miliarder baru yang kekayaannya bukan berasal dari inovasi, melainkan dari kedekatan politik. Inilah yang disebut oleh para pengamat sebagai “Nasionalisasi Elit” di mana kekayaan swasta kini menjadi sangat tergantung pada restu Kremlin.

Sanksi Barat: Senjata Makan Tuan?

Salah satu fakta ironis yang diungkap oleh para pengusaha ini adalah efek dari sanksi Barat. Awalnya, AS dan Uni Eropa berharap sanksi terhadap pribadi para oligarki akan memicu mereka untuk menggulingkan Putin. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Ketika rekening bank mereka di Swiss dibekukan dan vila mereka di Prancis disita, para miliarder ini tidak lagi memiliki tempat pelarian di Barat. Mereka terpaksa membawa pulang modal mereka ke Rusia. Di dalam negeri, satu-satunya orang yang bisa menjamin keamanan aset mereka adalah Vladimir Putin. Sanksi Barat secara tidak sengaja telah “menggiring” para oligarki kembali ke pelukan Kremlin, memperkuat ketergantungan mereka pada stabilitas rezim saat ini.

Kontrak Pertahanan dan Ekonomi Perang

Transisi Rusia menuju ekonomi perang juga membuka keran uang baru. Pemerintah Rusia meningkatkan belanja militer hingga ke level tertinggi sejak era Soviet. Hal ini memberikan peluang kontrak pengadaan yang masif bagi para pengusaha di sektor manufaktur, teknologi, dan logistik.

Putin telah mengubah narasi bisnis dari “pencarian laba global” menjadi “tugas patriotik”. Dalam pertemuan-pertemuan di Kremlin, ia sering menekankan bahwa pengusaha Rusia harus berinvestasi di dalam negeri jika ingin mendapatkan perlindungan hukum. Bagi mereka yang patuh, pintu menuju proyek-proyek strategis negara terbuka lebar, menciptakan siklus di mana kepentingan ekonomi elit dan kepentingan politik Putin menjadi satu dan tidak terpisahkan.

Kesimpulan: Lingkaran Setan Kekuasaan

Dukungan para pengusaha Rusia terhadap Putin saat ini adalah hasil dari kalkulasi pragmatis yang dingin. Antara ketakutan akan penjara dan godaan kekayaan dari aset rampasan, sebagian besar elit bisnis memilih untuk tetap diam dan mengikuti arus.

Kesaksian dari para mantan miliarder ini menunjukkan bahwa Putin telah berhasil membangun sistem di mana kesetiaan adalah satu-satunya mata uang yang berharga. Selama mesin ekonomi perang tetap berjalan dan aset asing terus didistribusikan kepada para loyalis, dukungan dari kelas atas Rusia kemungkinan besar akan tetap solid, setidaknya di permukaan.