Limbah Cangkang Kerang Cemari Air dan Ganggu Ekosistem Pesisir Jakarta Utara

Limbah Cangkang Kerang Cemari Air dan Ganggu Ekosistem Pesisir Jakarta Utara

ANGIN BERITA – Dalam beberapa bulan terakhir, tumpukan limbah cangkang kerang terutama dari kerang hijau (mussel) di pesisir Cilincing dan Kalibaru, utara Jakarta, semakin mengkhawatirkan. Limbah ini bukan sekadar sampah estetika: jika dibiarkan menumpuk tanpa pengolahan, dampaknya bisa meluas ke pencemaran air, kerusakan ekosistem pesisir, hingga bahaya kesehatan masyarakat.

Alarm dari Pakar: Mengapa Cangkang Kerang Menjadi Masalah

Menurut peneliti dari IPB University, Etty Riani, akumulasi limbah cangkang kerang hijau di Cilincing berpotensi mengganggu stabilitas ekosistem pesisir.

Pencemaran air dan penurunan kualitas lingkungan Saat cangkang membusuk, mikroorganisme menguraikannya lewat proses alami yang dipercepat panas dan interaksi dengan air laut. Proses ini melepaskan zat anorganik dan nutrien ke lingkungan laut, yang dalam jumlah besar bisa menurunkan kualitas air.

  • Eutrofikasi dan kematian massal biota laut Nutrien berlebih dari limbah dapat memicu ledakan pertumbuhan fitoplankton atau alga. Pada malam hari, fitoplankton menggunakan oksigen untuk respirasi, ditambah oksigen dibutuhkan untuk mikroba pengurai hal ini bisa menyebabkan penurunan drastis oksigen terlarut (DO), memicu kematian massal organisme laut.
  • Kontaminasi logam berat Studi IPB menunjukkan bahwa baik daging maupun cangkang kerang hijau mengandung logam berat berbahaya seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), kadmium (Cd), tembaga (Cu), kromium (Cr), dan seng (Zn). Dengan volume limbah mencapai 1–4 ton per hari, risiko kontaminasi air, sedimen, dan tanah pesisir meningkat tajam. Logam berat ini bisa diserap mangrove, organisme laut, dan terbawa masuk ke rantai pangan hingga manusia.
  • Kerusakan struktur pantai dan sedimentasi Penumpukan cangkang dalam jumlah besar dapat mengubah morfologi pesisir, memperparah pendangkalan dan erosi, serta merusak habitat alami.
  • Risiko kesehatan dan kebersihan Limbah yang dibiarkan terbuka berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya vektor penyakit (nyamuk, lalat, patogen), apalagi bila berada dekat pemukiman, pasar, atau area pengolahan seafood. Selain itu, bau tidak sedap dan polusi visual menurunkan kualitas hidup masyarakat sekitar.

Pakar lingkungan dari Institut Teknologi Bandung, Mochammad Chaerul, juga menegaskan bahwa limbah ini menyebabkan pencemaran air, gangguan ekosistem pesisir, penyumbatan drainase, serta menurunnya nilai estetika dan ekonomi wilayah.

Kronologi: Dari Pemrosesan Seafood hingga Gunungan Sampah

Aktivitas industri kerang hijau di utara Jakarta telah lama menjadi sumber mata pencaharian warga: nelayan menangkap kerang, kemudian pekerja memisahkan daging dari cangkang. Namun, hanya daging yang dijual sisanya, cangkang, dibuang begitu saja.

Akibatnya, kawasan seperti Kalibaru dan Cilincing sekarang dipenuhi gunungan limbah cangkang kadang setinggi tiga meter yang menutupi pantai dan area pesisir, bahkan menutupi tanggul laut.

Limbah ini telah menjadi pemandangan umum dan masalah serius terutama bagi masyarakat pesisir, yang merasakan langsung dampaknya.

Respons dan Potensi Solusi: Dari Limbah Jadi Sumber Daur Ulang

Menyadari dampak luas dari limbah cangkang kerang, beberapa upaya mulai dilakukan:

  • Menurut pendapat ahli, prinsip “polluters pay” sebaiknya diterapkan artinya pelaku usaha/pengolahan kerang harus bertanggung jawab atas pengelolaan limbah mereka.
  • Alternatif daur ulang: di wilayah utara Jakarta, beberapa kelompok telah mengolah cangkang menjadi bahan material seperti paving block, kerajinan tangan, atau bahan bangunan sehingga menjadikannya bernilai jual dan mengurangi limbah. 
  • Contoh inovasi yang menjanjikan: program di Warakas, Jakarta Utara telah memanfaatkan cangkang kerang sebagai media filtrasi air untuk budidaya ikan membantu mengurangi limbah sekaligus menjaga kualitas air dalam budidaya. 

Meskipun demikian, skala dan pelaksanaan solusi ini masih terbatas jauh dari cukup untuk menangani volume limbah harian yang mencapai ton sehingga otoritas setempat dan komunitas perlu bekerja sama secara lebih serius.

Mengapa Masalah Ini Mendesak: Implikasi Sosial dan Ekologis

Situasi di Cilincing/Kalibaru bukan sekadar soal tumpukan sampah: ini adalah sebuah krisis lingkungan dan sosial dengan implikasi sistemik.

  • Ekosistem pesisir yang rapuh Penurunan kualitas air, kontaminasi logam berat, eutrofikasi, dan sedimentasi bisa menghancurkan habitat laut, menurunkan keanekaragaman hayati, dan mengganggu mata pencaharian nelayan dalam jangka panjang.
  • Kesehatan masyarakat terancam Limbah yang mengandung logam berat dan potensi patogen berbahaya bisa berdampak pada kualitas seafood, kualitas air, bahkan udara memicu gangguan pernapasan, penyakit kulit, dan risiko kesehatan lain bagi warga pesisir.
  • Nilai ekonomi dan sosial merosot Lingkungan yang kotor, bau, dan tercemar bisa menurunkan daya tarik kawasan pesisir, melemahkan sektor perikanan, pariwisata, dan kesejahteraan masyarakat lokal.
  • Kontribusi terhadap krisis lingkungan yang lebih luas Akumulasi limbah organik dan anorganik seperti cangkang kerang memperburuk tekanan terhadap laut di tengah ancaman perubahan iklim, peningkatan permukaan laut, dan degradasi pesisir.