Langkah Pemerintah Bangun Kampung Haji di Makkah Dinilai Strategi Cerdas Tekan Biaya

Langkah Pemerintah Bangun Kampung Haji di Makkah Dinilai Strategi Cerdas Tekan Biaya

ANGIN BERITA – Pemerintah Indonesia kembali membuat gebrakan besar dalam upaya meningkatkan pelayanan ibadah haji bagi umat Islam Indonesia. Kali ini melalui inisiatif strategis membangun sebuah kawasan bernama Kampung Haji Indonesia di Makkah, Arab Saudi sebuah langkah yang menurut para ahli dan tokoh masyarakat disebut sebagai strategi cerdas untuk efisiensi biaya haji sekaligus meningkatkan kualitas layanan bagi para jamaah.

Proyek ambisius ini telah memasuki fase implementasi nyata, setelah pemerintah melakukan akuisisi fasilitas serta lahan strategis di kawasan Tahrir, dekat Masjidil Haram. Pemerintah melalui Menteri Investasi sekaligus Kepala Danantara, Rosan Roeslani, menyampaikan progres terbaru dari pembangunan Kampung Haji kepada Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, langkah ini merupakan pencapaian signifikan yang tidak hanya menyangkut aspek logistik tetapi juga dampak ekonomi bagi jamaah Indonesia.

Akuisisi Hotel dan Lahan Titik Awal Kampung Haji

Pada pertengahan Desember 2025, pemerintah resmi mengakuisisi sebuah hotel besar di kawasan Tahrir dengan total 1.461 kamar yang tersebar di tiga menara. Hotel tersebut diproyeksikan mampu menampung sekitar 4.383 jamaah haji Indonesia pada tahap awal. Selain itu, pemerintah juga membeli sekitar 5 hektare lahan di depan hotel sebagai area pengembangan Kampung Haji lebih lanjut.

Rencana pembangunan selanjutnya mencakup pembangunan 13 menara tambahan dan pusat perbelanjaan yang tak hanya menjadi fasilitas akomodasi, tetapi juga berbagai layanan pendukung bagi jamaah haji dan umrah. Total kapasitas kamar di masa depan diperkirakan mencapai 6.025 kamar, yang mampu menampung lebih dari 23.000 jamaah.

Selain itu, pemerintah juga menargetkan penyelesaian pembangunan Al-Hujun tunnel, sebuah terowongan yang akan menghubungkan kawasan Kampung Haji langsung dengan Masjidil Haram. Terowongan ini diumumkan akan memangkas jarak perjalanan jamaah dari sekitar 4,5–6 km menjadi hanya 2,5 km, sehingga memberikan kenyamanan dan efisiensi waktu yang lebih besar bagi para jamaah.

Efisiensi Biaya: Fokus Utama di Balik Inisiatif

Salah satu alasan utama pemerintah menggagas pembangunan Kampung Haji adalah penurunan biaya keseluruhan penyelenggaraan haji. Biaya haji selama ini menjadi isu sensitif karena terus meningkat, terutama komponen biaya akomodasi dan transportasi selama di Tanah Suci. Dengan memiliki fasilitas sendiri yang terintegrasi, potensi penghematan dapat dirasakan secara signifikan oleh jamaah.

Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, mengatakan bahwa jika fasilitas ini dapat menampung sekitar 200.000 orang, akan membantu memangkas biaya haji secara substansial karena berbagai kebutuhan jamaah bisa dikelola secara efisien di satu tempat. Manajemen bersama antara pemerintah, operator haji, dan lembaga keuangan syariah juga diyakini akan menghasilkan sinergi yang baik untuk menekan biaya tanpa mengurangi kualitas layanan.

Dukungan Legislatif dan Politik

Rencana pembangunan Kampung Haji juga mendapat dukungan luas dari berbagai pihak, termasuk legislatif. Sejumlah anggota DPR RI menyatakan dukungan kuat terhadap proyek ini karena dinilai bukan hanya memberikan manfaat langsung bagi jamaah haji Indonesia, tetapi juga membuka peluang investasi strategis jangka panjang yang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam kancah global.

Politisi juga menilai bahwa kampung ini akan mengubah paradigma penyelenggaraan haji Indonesia dari yang selama ini bersifat reaktif dan bergantung pada fasilitas sewa, menjadi proaktif dengan kepemilikan fasilitas yang memadai di lokasi strategis. Hal ini tak hanya soal efisiensi biaya, tetapi juga tentang kemandirian dan pelayanan berkualitas tinggi.

Kendala dan Tantangan

Meski didukung berbagai pihak, proyek ini juga menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait negosiasi dan koordinasi diplomatik dengan Kerajaan Saudi Arabia. Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang diberikan izin untuk memiliki lahan dan fasilitas permanen di Makkah sebuah pencapaian diplomatik yang tidak mudah terwujud dan menjadi bukti kuatnya hubungan bilateral antara kedua negara.

Selain itu, tantangan teknis seperti penyelesaian pembangunan infrastruktur tambahan termasuk menara baru, fasilitas layanan kesehatan, serta jaringan transportasi internal masih membutuhkan perencanaan matang agar dapat terealisasi sesuai target di tahun 2028. 

Potensi Dampak Jangka Panjang

Para analis menyebut langkah ini sebagai strategi cerdas karena memiliki banyak dampak positif jangka panjang tidak hanya bagi calon jamaah haji, tetapi juga bagi ekonomi umat dan reputasi Indonesia di panggung internasional. Dengan kepemilikan fasilitas yang ideal, biaya operasional pelayanan haji bisa ditekan, sedangkan kenyamanan dan kualitas layanan meningkat secara signifikan.

Selain itu, proyek ini juga dipandang mampu berkontribusi pada soft power Indonesia sebagai negara dengan jumlah jamaah haji terbesar di dunia, yang secara konsisten memperjuangkan pelayanan ibadah haji yang adil dan terjangkau. Ke depannya, Kampung Haji Indonesia bisa menjadi model bagi negara lain yang juga ingin meningkatkan efisiensi biaya tanpa mengorbankan kualitas.