Kronologi 3 WNI Terjebak di Socotra Yaman Akibat Konflik Militer

Kronologi 3 WNI Terjebak di Socotra Yaman Akibat Konflik Militer

ANGIN BERITA – Dunia internasional kembali menaruh perhatian pada eskalasi konflik di Yaman yang kian memanas di awal tahun 2026. Di tengah kecamuk tersebut, tiga Warga Negara Indonesia (WNI) dilaporkan terjebak di Pulau Socotra, sebuah wilayah yang dikenal dengan keindahan alamnya namun kini menjadi zona isolasi akibat penutupan wilayah udara oleh koalisi militer pimpinan Arab Saudi.

Berikut adalah rincian kronologi, latar belakang, dan upaya evakuasi yang sedang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia.

Awal Kedatangan: Wisata yang Berujung Isolasi

Ketiga WNI tersebut diketahui memasuki wilayah Yaman untuk tujuan wisata. Mereka masuk ke Pulau Socotra menggunakan jasa operator wisata Tour Socotra yang berbasis di Uni Emirat Arab (UEA). Berdasarkan data Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, mereka tiba di pulau tersebut sebelum pecahnya serangan udara besar-besaran di daratan utama Yaman.

Pulau Socotra sendiri secara administratif merupakan bagian dari Yaman, namun memiliki posisi geopolitik yang unik karena pengaruh kuat UEA di sana. Ketiga WNI tersebut memulai perjalanan mereka saat situasi dianggap masih relatif aman bagi turis asing.

30 Desember 2025: Eskalasi Serangan Udara

Situasi berubah drastis pada akhir Desember 2025. Pasukan koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi melancarkan serangan udara intensif ke wilayah Pelabuhan Mukalla dan Sanaa. Serangan ini dipicu oleh tuduhan Saudi bahwa Uni Emirat Arab mengirimkan kapal berisi persenjataan untuk kelompok separatis Dewan Transisi Selatan (STC) tanpa izin resmi.

Akibat serangan tersebut, pemerintah Arab Saudi segera memberlakukan penutupan total wilayah udara di seluruh Yaman, termasuk jalur penerbangan komersial dari dan menuju Pulau Socotra.

3 Januari 2026: Status Terjebak Dikonfirmasi

Pada tanggal 3 Januari 2026, ketiga WNI ini secara resmi dilaporkan dalam kondisi stranded atau terjebak. Mereka seharusnya dijadwalkan kembali ke Abu Dhabi melalui penerbangan komersial. Namun, karena larangan melintas di ruang udara Yaman (NOTAM) yang dikeluarkan oleh otoritas militer, pesawat yang seharusnya menjemput mereka tidak dapat mendarat.

Selain WNI, dilaporkan terdapat sekitar 400 hingga 600 wisatawan asing lainnya dari berbagai negara seperti Rusia, Italia, Inggris, dan Amerika Serikat yang juga mengalami nasib serupa di pulau tersebut.

 7 – 8 Januari 2026: Koordinasi Diplomatik Intensif

Plt. Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, dalam keterangan persnya pada Kamis (8/1/2026), memastikan bahwa kondisi ketiga WNI tersebut dalam keadaan sehat dan aman. Kemlu melalui KBRI Muscat (Oman), KBRI Riyadh (Arab Saudi), dan KBRI Abu Dhabi (UEA) terus menjalin komunikasi intensif dengan para WNI dan otoritas setempat.

“Berdasarkan pemantauan terakhir, seluruh WNI berada dalam keadaan baik, sehat, dan aman. Kami terus mengupayakan agar mereka bisa segera keluar melalui penerbangan yang mulai dibuka secara terbatas,” ujar Heni Hamidah di Gedung Palapa, Jakarta.

Hambatan Evakuasi dan Pembukaan Wilayah Udara

Meskipun wilayah udara mulai dibuka secara bertahap pada 7 Januari 2026, proses pemulangan tidak semudah yang dibayangkan. Terjadi antrean panjang ribuan orang yang ingin meninggalkan Yaman. Pada 8 Januari, beberapa turis asal Italia berhasil dievakuasi menuju Jeddah, Arab Saudi, yang menjadi titik transit utama.

Pemerintah Indonesia sedang mendorong agar ketiga WNI tersebut dapat terakomodasi dalam penerbangan lanjutan yang dijadwalkan pada 9 Januari 2026 menuju Jeddah, sebelum nantinya diterbangkan kembali ke tanah air.

Kondisi Geopolitik yang Menyulitkan

Ketegangan ini bukan sekadar konflik internal Yaman, melainkan cerminan keretakan hubungan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) di wilayah tersebut. Saudi menuding UEA mendukung gerakan separatis STC yang ingin memisahkan Yaman Selatan, sementara pemerintah resmi Yaman tetap berkomitmen pada persatuan wilayah. Pulau Socotra menjadi titik panas karena lokasinya yang strategis di Samudra Hindia.