ANGIN BERITA — Aceh belum sepenuhnya pulih dari bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut beberapa bulan terakhir. Dampaknya dirasakan langsung pada layanan kesehatan masyarakat, di mana puluhan fasilitas medis rusak bahkan tidak dapat beroperasi. Untuk menjawab tantangan ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengambil langkah strategis: membangun dan meresmikan Puskesmas baru sebagai upaya percepatan pemulihan layanan kesehatan dasar. Peresmian ini menjadi simbol bahwa harapan dan layanan kesehatan kini kembali menyentuh masyarakat terdampak bencana di Aceh.
Langkah nyata itu adalah bentuk komitmen pemerintah dalam menghadirkan kembali layanan kesehatan yang berkualitas, tepat waktu, dan merata bagi seluruh warga. Selain itu, momentum ini juga menjadi peringatan akan pentingnya kesiapsiagaan sistem kesehatan dalam menghadapi bencana di masa depan.
Kolaborasi Cepat untuk Pemulihan Layanan Dasar
Upaya pemulihan layanan kesehatan pascabencana tidak terjadi secara kebetulan. Dalam hitungan minggu setelah bencana, Kemenkes bersama mitra terkait bekerja tanpa henti untuk memastikan masyarakat kembali memperoleh akses layanan. Dua Puskesmas yang semula rusak parah kini telah dibangun kembali di Lokop, Kabupaten Aceh Timur dan di wilayah Jambur Lak‑Lak, Kabupaten Aceh Tenggara. Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, fasilitas ini selesai dalam waktu yang relatif singkat — hanya tiga minggu saja.
Percepatan ini tidak lepas dari dukungan lintas sektor, termasuk Kementerian PUPR yang mempercepat konstruksi fisik serta pihak swasta yang membantu penyediaan peralatan dan perlengkapan kesehatan. Pendekatan kolaboratif seperti ini menjadi tonggak penting agar layanan kesehatan dasar — yang menjadi kebutuhan mendesak warga setelah bencana — segera dapat berjalan optimal.
Peran Puskesmas dalam Pemulihan Masyarakat Terdampak
Puskesmas bukan sekadar gedung layanan kesehatan. Bagi warga Aceh yang kehilangan rumah, pekerjaan, atau anggota keluarga, fasilitas ini menjadi pelabuhan pertama untuk mendapatkan pertolongan medis, imunisasi, pengobatan penyakit umum, dan layanan kesehatan ibu dan anak. Setelah bencana, kebutuhan akan layanan kesehatan bahkan meningkat tajam karena risiko penyakit akibat banjir dan kondisi lingkungan yang berubah.
Dengan hadirnya dua Puskesmas yang telah direhabilitasi, masyarakat berharap dapat segera kembali ke rutinitas normal mereka. Fasilitas ini memudahkan penanganan kasus kecil dan menengah tanpa harus mengharuskan warga menempuh perjalanan jauh ke rumah sakit, yang sering kali terkena dampak bencana juga. Infrastruktur yang kuat akan mempercepat sekaligus menguatkan fondasi kesehatan di Aceh pascabencana.
Strategi Menyeluruh Kemenkes dalam Penanganan Pascabencana
Peresmian Puskesmas baru hanyalah bagian dari strategi keseluruhan Kemenkes dalam menangani dampak bencana di Aceh dan wilayah lain yang terkena cuaca ekstrem di Sumatra. Ketika bencana terjadi, Kemenkes langsung menerjunkan ribuan tenaga kesehatan cadangan untuk memastikan kebutuhan dasar medis terpenuhi di lapangan. Misalnya, lebih dari 396 tenaga kesehatan tambahan dikerahkan ke berbagai lokasi terdampak Aceh untuk memperkuat layanan pascabencana.
Selain itu, ada juga tahap respons logistik yang masif, mencakup pengiriman obat-obatan, perangkat medis, peralatan mobile health, dan paket bantuan kesehatan bagi kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, serta lansia. Hal ini dilakukan agar proses pemulihan layanan kesehatan berlangsung secara menyeluruh dan tak terputus.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski banyak fasilitas kini sudah kembali beroperasi, tantangan pemulihan pascabencana di Aceh masih berat. Menurut data dari pemerintah, ribuan fasilitas kesehatan sempat terdampak dengan tingkat kerusakan beragam dari rusak ringan hingga berat. Bahkan beberapa wilayah harus tetap memperjuangkan akses layanan karena infrastruktur jalan dan komunikasi yang belum pulih sempurna.
Namun, kehadiran Puskesmas baru dan upaya sinergis antara pemerintah pusat, provinsi, dan berbagai mitra memberi harapan bahwa pemulihan akan terus berjalan. Ke depan, strategi kesehatan pascabencana akan menitikberatkan pada kesiapsiagaan, pembangunan fasilitas yang tahan bencana, serta penguatan sumber daya kesehatan agar ketika bencana terjadi lagi, layanan tidak lagi lumpuh dan segera tersedia untuk seluruh lapisan masyarakat.
