Jembatan Beutong Ateuh Nagan Raya Putus Diterjang Banjir Bandang

Jembatan Beutong Ateuh Nagan Raya Putus Diterjang Banjir Bandang

ANGIN BERITA – Wilayah Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang dan sekitarnya di Nagan Raya diguyur hujan lebat, memicu banjir bandang dan luapan sungai. Arus deras dan volume air yang meningkat menyebabkan kerusakan parah pada struktur jembatan utama penghubung di Desa Kuta Teugong.

Akibatnya, Jembatan Beutong Ateuh Banggalang putus total tidak bisa lagi dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat. Foto udara memperlihatkan jembatan yang hancur, sisa struktur yang terpisah, serta aliran sungai yang tampak kuat menjadi bukti visual dampak serius dari banjir bandang ini.

Dampak terhadap Masyarakat dan Mobilitas

Dengan putusnya jembatan, akses transportasi warga dari dua sisi sungai langsung lumpuh. Mobilitas warga untuk aktivitas sehari‑hari seperti pergi ke pasar, sekolah, layanan kesehatan sangat terganggu.

Banyak desa di Nagan Raya terdampak. Data dari pihak berwenang menunjukkan bahwa sedikitnya 22–27 desa di beberapa kecamatan mengalami banjir beberapa bahkan terkena luapan air hingga 1,8 meter.

Dampak tak hanya pada akses jalan: banyak rumah warga, fasilitas publik, bahkan sarana ibadah dan pos keamanan dilaporkan rusak atau hancur akibat banjir bandang bersama sesaratan longsor.

Upaya Darurat & Respons Pemerintah

Menanggapi krisis ini, pemerintah setempat melalui instansi terkait di Nagan Raya telah membangun jembatan darurat sementara dari material pohon kelapa. Ini dimaksudkan agar akses dasar tetap bisa dilalui warga sembari menunggu pembangunan jembatan permanen.

Pembangunan jembatan permanen direncanakan pada anggaran 2025 mendatang, tetapi diperkirakan akan memakan waktu, mengingat kondisi medan, aliran sungai, dan besarnya kerusakan.

Sementara itu, pemerintah daerah juga mencatat dan mendata berbagai kerusakan infrastruktur bukan hanya jembatan, tapi saluran irigasi, jalan, bangunan publik untuk penanganan lebih lanjut.

Kerugian & Tantangan Sosial

Lebih dari 2.500 jiwa warga di kawasan Beutong Ateuh Banggalang dilaporkan mengungsi, sebagian besar karena rumah dan fasilitas mereka rusak atau hilang akibat banjir bandang. Pemerintah daerah telah mendirikan tenda darurat di dataran tinggi sebagai tempat pengungsian sementara.

Banyak masyarakat kehilangan rumah, harta benda, dokumen penting, dan akses layanan dasar. Ini menimbulkan tantangan besar terkait logistik, pemenuhan kebutuhan pokok, serta pendidikan dan pelayanan kesehatan bagi warga.

Jika pembangunan jembatan permanen terhambat, risiko isolasi sosial dan ekonomi terhadap komunitas di desa‑desa terpencil bisa meningkat terutama bagi yang tergantung pada mobilitas rutin lintas sungai.

Implikasi & Harapan ke Depan

Peristiwa putusnya Jembatan Beutong Ateuh Banggalang ini menunjukkan betapa rentannya infrastruktur di daerah rawan bencana khususnya terhadap banjir bandang dan longsor. Pemulihan infrastruktur seperti jembatan harus didahului dengan perencanaan antisipatif (misalnya desain tahan banjir, kajian lokasi) agar kejadian serupa dapat diminimalkan.

Upaya jangka pendek seperti jembatan darurat penting untuk menjaga mobilitas dasar. Namun, perbaikan jangka panjang dan rekonstruksi permanen harus dilakukan cepat agar warga bisa kembali menjalani kehidupan normal: akses ke pasar, sekolah, kesehatan, dan layanan publik lainnya.

Terakhir, perhatian dari pemerintah pusat maupun lembaga penanggulangan bencana sangat diperlukan baik penyediaan anggaran, logistik, maupun dukungan kemanusiaan bagi warga terdampak.