ANGIN BERITA – Indonesia dinilai bisa memainkan peran penting ditengah mulai pulihnya pariwisata secara global. Wisata premium disebut mampu menjadi salah satu pilihan untuk menangkap potensi perkembangan pariwisata.
CEO Liberty International Tourism Group, Mario Enzesberger memandang, potensi perkembangan wisata di Asia masih terbuka lebar. Perhatian wisatawan maupun investor bisa mengarah ke Tanah Air, termasuk ke sektor premium.
“Indonesia perlu lebih banyak hotel, lebih banyak penawaran yang dirancang cerdas, tanpa kembali ke pariwisata massal. Segmen menengah ke atas jauh lebih menjanjikan,” kata Enzesberger dalam keterangannya, Sabtu (15/11/2025).
Dia menuturkan, industri pariwisata ini mulai bergeser dari wisata massal ke wisata premium. Pada sisi ekonomi, hal ini diperkirakan memberikan dampak lebih besar. “Segmen premium adalah arah yang tepat, lebih ramah sumber daya dan menghasilkan nilai per kapita lebih tinggi,” ia menambahkan.
Selain tren perjalanan, konektivitas udara disebut sebagai faktor penentu utama. Bandara hub seperti Singapura menjadi penggerak penting arus masuk wisatawan ke Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
“Konektivitas adalah nomor satu. Asia sudah memiliki bandara dan maskapai terbaik. Masa depan perjalanan akan tanpa antrean semua otomatis,” kata dia.
1,5 Juta Wisatawan Asing Serbu RI
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat wisatawan mancanegara (Wisman) mencapai 1,50 juta kunjungan pada September 2025.
“Pada Agustus 2025 kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) melalui pintu masuk utama sebanyak 1.335.096 kunjungan,” kata Deputi Bidang Statistik BPS, M. Habibullah, dalam konferensi pers BPS, Rabu, 1 Oktober 2025.
Sementara wisman yang masuk pintu masuk perbatasan sebanyak 170.124 kunjungan. Secara total, jumlah kunjungan wisman sebanyak 1.505.220 kunjungan atau naik sebesar 1,61 persen secara bulanan dan naik 12,33 persen secara tahunan.
Pasar Premium: Segmen yang Menguntungkan bagi Indonesia
Indonesia dikenal dengan berbagai destinasi wisata yang memikat, mulai dari Bali, Lombok, hingga Labuan Bajo dan Raja Ampat. Beberapa destinasi tersebut memang sudah memiliki daya tarik untuk wisatawan kelas atas, yang mencari pengalaman mewah dan eksklusif. Para wisatawan premium cenderung mencari akomodasi bintang lima, layanan concierge, hingga pengalaman yang lebih privat dan personal. Mereka juga sering kali menginginkan paket wisata yang lebih khusus, seperti tur pribadi, pengalaman kuliner terbaik, hingga wisata alam yang lebih intim.
Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, mengatakan bahwa Indonesia harus memanfaatkan potensi pasar kelas premium yang memiliki daya beli tinggi. Menurut Sandiaga, pasar wisata premium memiliki peranan besar dalam mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi Indonesia. “Kami optimis bahwa sektor pariwisata Indonesia akan bangkit lebih cepat, dan pasar premium adalah salah satu kunci untuk mendorong pertumbuhan ini. Wisatawan premium tidak hanya berkontribusi pada perekonomian melalui pengeluaran mereka, tetapi juga dapat membantu memperkenalkan Indonesia ke dunia sebagai destinasi kelas dunia,” kata Sandiaga dalam sebuah pernyataan.
Menurut laporan dari World Tourism Organization (UNWTO), pasar wisata premium di Asia Tenggara mengalami pertumbuhan pesat, dan Indonesia memiliki peluang besar untuk merebut pasar ini. Selain itu, dengan semakin meningkatnya jumlah orang kaya di kawasan ini, Indonesia perlu segera menyesuaikan diri agar tidak kalah saing dengan negara-negara lain yang sudah lebih dulu menggarap pasar ini, seperti Thailand dan Malaysia.

