Hukum Merayakan Tahun Baru 2026 dalam Islam Simak Penjelasan Bijak Buya Yahya

Hukum Merayakan Tahun Baru 2026 dalam Islam: Simak Penjelasan Bijak Buya Yahya

ANGIN BERITA – Menjelang pergantian tahun dari 2025 ke 2026, euforia masyarakat biasanya mulai meningkat dengan berbagai rencana perayaan. Namun, bagi umat Muslim, pertanyaan klasik mengenai hukum merayakan Tahun Baru Masehi kembali mencuat. Pengasuh Lembaga Pengembangan Da’wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, KH Yahya Zainul Ma’arif atau yang akrab disapa Buya Yahya, memberikan penjelasan mendalam agar umat tidak salah langkah dalam menyikapi momentum ini.

Menelisik Akar Budaya dan Syariat

Buya Yahya menegaskan bahwa pada dasarnya, pergantian tahun adalah urusan waktu dan penanggalan yang bersifat universal untuk kepentingan administratif duniawi. Namun, masalah muncul ketika pergantian tahun tersebut dirayakan dengan cara-cara yang bertentangan dengan syariat Islam atau mengikuti ritual agama lain.

Dalam berbagai kajiannya, Buya Yahya mengingatkan bahwa perayaan tahun baru yang identik dengan pesta pora, hura-hura, hingga tiup terompet bukanlah tradisi Islam. Ia menekankan pentingnya menjaga identitas seorang Muslim dan tidak sekadar ikut-ikutan (tasyabbuh) tanpa memahami maknanya.

“Banyak yang merayakan ini adalah orang di luar Islam karena bangga dengan tahun baru mereka, dan seringkali ada kemaksiatan di dalamnya. Jadi yang kita hentikan adalah kebiasaan jeleknya,” ujar Buya Yahya dilansir dari kanal YouTube Al-Bahjah TV.

3 Poin Penting Cara Menyikapi Tahun Baru 2026

Agar tidak keliru dalam bertindak, berikut adalah poin-poin utama yang ditekankan oleh Buya Yahya:

1. Menghindari Budaya yang Bukan Milik Islam

Buya Yahya menjelaskan bahwa banyak simbol tahun baru yang sebenarnya memiliki akar sejarah dari agama atau budaya lain. Contohnya, tradisi meniup terompet yang dalam sejarah Islam disebutkan sebagai kebiasaan kaum Yahudi.

  • Hukumnya: Mengikuti budaya atau ritual agama lain secara sengaja dapat mencederai akidah.
  • Solusi: Muslim sebaiknya tidak perlu membeli atau menggunakan atribut-atribut khas perayaan tersebut.

2. Menjauhi Kemaksiatan dan Hura-hura

Malam tahun baru seringkali menjadi momen di mana kemaksiatan meningkat, mulai dari pergaulan bebas, konsumsi alkohol, hingga pemborosan harta (tabdzir) melalui pesta kembang api yang berlebihan. Buya Yahya berpesan agar orang tua menjaga anak-anak mereka agar tidak terjerumus dalam lingkungan yang salah pada malam tersebut.

3. Mengubah Budaya Ikut-ikutan Menjadi Muhasabah

Islam mengajarkan umatnya untuk selalu melakukan evaluasi diri (muhasabah). Alih-alih merayakannya dengan kebisingan, Buya Yahya menyarankan agar waktu tersebut digunakan untuk merenung:

  • Apa saja dosa yang dilakukan setahun lalu?
  • Bagaimana memperbaiki diri di tahun 2026?

Solusi Alternatif: Mengislamkan Momen

Buya Yahya memberikan solusi cerdas bagi masyarakat yang ingin tetap berkumpul tanpa melanggar syariat. Ia menyarankan para tokoh agama dan masyarakat untuk mengadakan acara-acara yang bermanfaat.

“Dalam dakwah, kita bisa memanfaatkan momen keramaian untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan,” tuturnya.

Mengadakan Tabligh Akbar, Doa Bersama, atau Kajian Ilmu di masjid-masjid pada malam pergantian tahun adalah cara bijak untuk mengalihkan pemuda Muslim dari kegiatan yang sia-sia di jalanan.

Tabel Perbandingan Sikap: Benar vs Keliru

Aspek Tindakan yang Keliru Sikap yang Benar (Rekomendasi)
Aktivitas Konvoi, pesta mercon, tiup terompet. Ibadah di rumah/masjid, tidur lebih awal.
Niat Ikut merayakan syiar agama/budaya lain. Menjadikannya waktu untuk evaluasi diri.
Penggunaan Harta Membeli kembang api/atribut mahal. Bersedekah atau ditabung untuk masa depan.
Interaksi Sosial Campur baur laki-laki dan perempuan. Berkumpul bersama keluarga dengan cara halal.