Harga RAM Meroket 500%, Gamer Serukan Boikot

Harga RAM Meroket 500%, Gamer Serukan Boikot

ANGIN BERITA – Pasar komponen komputer global, terutama memori Random Access Memory (RAM), sedang diguncang oleh lonjakan harga yang ekstrem, memicu gelombang protes dan seruan boikot dari komunitas gamer dan perakit PC di seluruh dunia. Kenaikan harga modul RAM, baik jenis DDR4 maupun DDR5, dilaporkan telah mencapai angka yang mengkhawatirkan, bahkan di beberapa segmen menembus 500% dibandingkan harga tahun sebelumnya.

Kondisi ini menciptakan kegelisahan masif, mengingat RAM merupakan salah satu komponen krusial untuk performa gaming dan multitasking modern. Bagi para gamer yang berencana untuk upgrade atau merakit PC baru menjelang akhir tahun, lonjakan harga ini telah mengubah rencana impian mereka menjadi sebuah mimpi buruk finansial.

Akar Masalah: Prioritas AI dan Kelangkaan Global

Menurut analisis pasar terkini, penyebab utama kenaikan harga ini adalah fenomena yang disebut sebagai “AI Supercycle” atau siklus permintaan Kecerdasan Buatan (AI) yang masif.

  1. Pengalihan Kapasitas Produksi: Produsen chip memori besar dunia kini memprioritaskan produksi High Bandwidth Memory (HBM) dan memori DDR5 kelas server. Memori canggih ini sangat dibutuhkan untuk data center dan server yang menjalankan pelatihan dan inferensi AI, yang menawarkan margin keuntungan jauh lebih tinggi bagi produsen.
  2. Kekurangan Pasokan Konsumen: Akibat pengalihan fokus ini, pasokan chip DRAM dan NAND Flash untuk pasar konsumen (PC, laptop, smartphone) menyusut drastis. Kelangkaan ini menjangkiti semua segmen, bahkan membuat harga DDR4 yang dianggap teknologi lama ikut meroket tajam, dilaporkan naik hingga 180% di beberapa pasar.
  3. Spekulasi dan Penimbunan: Situasi ini diperparah oleh adanya dugaan spekulasi dan penimbunan stok oleh beberapa retailer dan bahkan produsen perangkat keras besar (Original Equipment Manufacturer – OEM), yang berebut mengamankan stok sebelum harga semakin tak terkendali. Laporan di beberapa negara bahkan menyebutkan adanya pembatasan penjualan modul memori kepada konsumen perorangan.

Reaksi Komunitas Gamer: Seruan Boikot

Lonjakan harga yang dianggap tidak masuk akal ini memicu kemarahan di kalangan komunitas gamer global. Di berbagai forum, platform media sosial, dan kanal video teknologi, tagar dan seruan untuk memboikot pembelian RAM, dan bahkan komponen PC baru secara umum, mulai viral.

  • Tunda Upgrade: Para gamer mendesak sesama pengguna untuk menunda rencana upgrade memori mereka setidaknya hingga tahun 2026. Mereka berharap tekanan dari penurunan permintaan konsumen dapat memaksa produsen meninjau kembali strategi harga dan alokasi pasokan mereka.
  • Dugaan Kartel: Beberapa anggota komunitas bahkan menyuarakan dugaan bahwa kelangkaan dan kenaikan harga ini sengaja diciptakan (artificial shortage) oleh segelintir produsen chip untuk memaksimalkan keuntungan, mirip dengan krisis yang pernah terjadi pada tahun 2020-2021.

Dampak Berantai pada Industri

Dampak kenaikan harga RAM ini mulai merambat ke komponen lain. AMD dikabarkan berencana menaikkan harga kartu grafis (GPU) mereka hingga 10% sebagai respons langsung terhadap tingginya biaya memori GDDR (Graphics Double Data Rate) yang digunakan pada kartu grafis. Selain itu, penjualan motherboard (papan induk) juga dilaporkan terpangkas hingga setengahnya karena konsumen menunda perakitan PC baru akibat biaya RAM yang terlampau mahal.

Di pasar konsol, krisis ini juga berdampak. Valve disebut-sebut menunda pengumuman harga resmi untuk konsol handheld terbaru mereka, Steam Machine, karena masalah biaya komponen. Sementara itu, muncul kekhawatiran bahwa Xbox terpaksa menaikkan harga konsol mereka di masa depan.

Proyeksi dan Harapan

Analis pasar memperkirakan bahwa kondisi “pasar banteng” (bull market) ini, di mana permintaan terus tinggi dan harga terus naik, kemungkinan akan berlanjut hingga akhir tahun 2025 dan bahkan berlanjut ke awal tahun 2026. Pemulihan harga baru diproyeksikan terjadi pada pertengahan 2026 atau 2027, saat kapasitas pabrik baru mulai beroperasi penuh dan siklus permintaan AI mungkin mencapai titik jenuh.

Meskipun demikian, seruan boikot dari gamer ini menjadi tekanan moral dan pasar yang signifikan. Keputusan kolektif konsumen untuk menahan pembelian dapat menjadi faktor penyeimbang yang berpotensi mempercepat normalisasi harga memori RAM.