ANGIN BERITA – Drama internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mencapai titik terang setelah silaturahim alim ulama yang digelar pada Minggu malam (23/11/2025) di Kantor Pusat PBNU, Jakarta. Dalam pertemuan penting yang dihadiri sekitar 50 kiai dari berbagai wilayah, termasuk Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Sumatera Utara, disepakati bahwa Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya, tidak akan mundur dari jabatannya. Kepengurusan PBNU di bawah kepemimpinannya dipastikan akan berlanjut hingga masa Muktamar berikutnya yang dijadwalkan kurang lebih satu tahun lagi.
Keputusan ini sekaligus menepis isu dan desakan pengunduran diri yang sempat mencuat ke publik, menyusul beredarnya risalah rapat harian Syuriyah PBNU yang meminta Gus Yahya mundur dalam waktu tiga hari. Desakan tersebut diduga terkait kontroversi kehadiran narasumber yang memiliki kaitan dengan Israel dalam sebuah acara NU, meskipun hal ini dibantah oleh beberapa pihak di jajaran Syuriyah yang merasa risalah tersebut telah “dipelintir”.
Tiga Kesepakatan Utama dari Silaturahim Ulama
Katib ‘Aam PBNU, KH Ahmad Said Asrori, seusai pertemuan, menjelaskan bahwa silaturahim alim ulama tersebut menghasilkan tiga poin kesepakatan krusial.
- Penguatan Silaturahim dan Islah: Para kiai yang hadir mengusulkan agar segera diadakan silaturahim yang lebih besar lagi di antara para kiai, alim ulama, dan sesepuh NU. Tujuannya adalah untuk mencari jalan keluar yang maslahat bagi organisasi, menegaskan bahwa komunitas kiai adalah komunitas tunggal dan tidak ada pihak yang memihak dalam konflik ini.
- Kepengurusan Berlanjut Sampai Muktamar: Secara tegas, para kiai sepakat bahwa kepengurusan PBNU saat ini, termasuk posisi Gus Yahya sebagai Ketua Umum, harus diselesaikan dalam satu periode penuh, yang berarti hingga Muktamar berikutnya. Katib ‘Aam menegaskan, “tidak ada pemakzulan dan tidak ada pengunduran diri”. Perubahan struktur kepengurusan hanya bisa dilakukan melalui Muktamar, sebagai majelis tertinggi organisasi, sesuai dengan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU.
- Seruan Tafakur: Para ulama menyerukan kepada semua pihak di internal NU untuk melakukan tafakur (perenungan) demi kebaikan bersama, kebaikan masyarakat, dan kebaikan warga Nahdlatul Ulama serta Indonesia secara keseluruhan.
“Jadi sekali lagi, tidak ada pengunduran dan tidak ada pemaksaan pengunduran diri. Tidak ada. Semua harus, semuanya pengurusan harian PBNU mulai Rais Aam sampai jajaran, Ketua Umum dan jajaran sempurna sampai Muktamar yang akan datang,” tegas Katib ‘Aam PBNU, KH Ahmad Said Asrori.
Sikap Tegas Gus Yahya Soal AD/ART
Menanggapi polemik yang terjadi, Gus Yahya sendiri telah menegaskan sikapnya untuk tidak mundur. Ia menekankan bahwa rekomendasi yang muncul dari rapat harian Syuriyah tidak memiliki hak untuk memberhentikan kepengurusan organisasi. Menurutnya, mekanisme organisasi dan pemberhentian sudah diatur dengan jelas dalam AD/ART, dan rapat Syuriyah tidak bisa serta merta mengeksekusi pemberhentian Ketua Umum.
“Ini dinamika organisasi yang sedang berjalan. Saya minta semua pengurus dan warga NU tetap tenang, tidak terbawa arus berita yang menyesatkan, dan tidak memperbesar kesalahpahaman,” ujar Gus Yahya, meminta seluruh warga NU tidak terprovokasi.
Beliau juga mengklaim telah mengonsolidasikan diri dengan Pengurus Wilayah NU (PWNU) se-Indonesia, yang mayoritas juga bersepakat agar dirinya menuntaskan masa jabatan hingga Muktamar.
Agenda Pertemuan Lanjutan di Lirboyo
Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan islah, Gus Yahya mengungkapkan bahwa para ulama dijadwalkan akan mengadakan pertemuan lanjutan yang lebih luas, dengan mengundang para kiai sepuh (yang lebih senior) dan unsur-unsur kepemimpinan lainnya di lingkungan NU. Pertemuan tersebut direncanakan akan bertempat di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.
Pertemuan di Lirboyo diharapkan menjadi forum yang dapat membuka jalan keluar dan solusi yang maslahat bagi semua pihak, serta mengembalikan segala persoalan internal kepada sistem aturan dan konstitusi organisasi yang berlaku.
“Mudah-mudahan bisa menjadi pembuka jalan keluar dari masalah yang ada sekarang,” tutup Gus Yahya, menggarisbawahi pentingnya mengembalikan polemik internal pada koridor Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga organisasi.

