ANGIN BERITA – Dinamika keamanan di Asia Timur kembali memanas setelah Amerika Serikat (AS) dan Jepang melancarkan unjuk kekuatan udara yang signifikan di atas Laut Jepang, menyusul serangkaian aktivitas militer gabungan yang dilakukan oleh China dan Rusia di sekitar wilayah kedua negara sekutu tersebut. Manuver ini bukan sekadar latihan rutin, melainkan sebuah sinyal politik dan militer yang tegas dari Washington dan Tokyo terhadap meningkatnya koordinasi strategis antara Beijing dan Moskow di Pasifik.
Pada hari Rabu (10/12), dua pesawat pengebom strategis B-52 Stratofortress milik AS pesawat yang mampu membawa persenjataan nuklir terbang berdampingan dengan enam jet tempur mutakhir Jepang, termasuk tiga jet siluman F-35 Lightning II dan tiga jet superioritas udara F-15J. Operasi udara bersama ini dilaporkan oleh Kementerian Pertahanan Jepang pada Kamis (11/12), yang menegaskan langkah ini sebagai konfirmasi ulang aliansi dan komitmen mereka untuk menjaga stabilitas regional.
Respon Langsung Terhadap Provokasi Udara
Latihan gabungan AS-Jepang ini muncul sebagai respons langsung terhadap operasi penerbangan strategis yang dilakukan oleh pesawat pengebom gabungan China dan Rusia pada hari Selasa (9/12). Dalam operasi tersebut, bomber-bomber jarak jauh kedua negara, yang terdiri dari pesawat pengebom Tu-95 Bear milik Rusia dan H-6K milik China, melakukan patroli bersama di atas Laut China Timur dan Pasifik Barat. Aktivitas ini secara konsisten telah memicu pengerahan jet-jet tempur dari Pasukan Bela Diri Jepang (SDF) untuk melakukan pemantauan ketat.
Selain patroli bomber, kawasan tersebut juga diwarnai dengan latihan kelompok kapal induk China, termasuk kapal induk Liaoning, yang mendorong Jepang untuk menyiagakan jet-jet tempurnya. Tokyo bahkan melaporkan bahwa salah satu jet tempurnya sempat menjadi sasaran pancaran radar dari jet tempur China yang beroperasi dari kapal induk tersebut sebuah insiden yang dibantah oleh Beijing.
Pesan Washington dan Tokyo: Aliansi Tak Tergoyahkan
Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, dalam pernyataannya menekankan bahwa latihan udara bersama AS-Jepang tersebut “menegaskan kembali tekad kuat mereka untuk mencegah upaya sepihak untuk mengubah status quo dengan kekerasan dan menegaskan kesiapan baik Pasukan Bela Diri Jepang (SDF) maupun pasukan AS.”
Pengerahan B-52 AS, yang dikenal sebagai salah satu simbol kekuatan proyeksi daya jangka panjang Amerika, mengirimkan pesan yang jelas. Ini adalah pertama kalinya AS secara eksplisit menunjukkan kehadiran militer semacam itu sebagai tanggapan langsung sejak rangkaian latihan militer China dan Rusia dimulai pada pekan lalu.
Washington sendiri telah mengkritik keras tindakan militer China yang dianggap “tidak kondusif bagi perdamaian dan stabilitas regional” dan kembali menegaskan aliansinya dengan Jepang sebagai sesuatu yang “tidak tergoyahkan.”
Eskalasi Ketegangan di Kawasan
Peristiwa ini menggarisbawahi eskalasi ketegangan yang berkelanjutan di Asia Timur, yang kini menjadi titik fokus persaingan geopolitik global.
- Peningkatan Kolaborasi Sino-Rusia: Dalam beberapa tahun terakhir, Moskow dan Beijing semakin mempererat kerja sama militer mereka melalui serangkaian latihan gabungan, termasuk latihan anti-rudal dan tembak langsung angkatan laut. Patroli udara strategis gabungan yang dilakukan secara rutin di dekat perbatasan Jepang dan Korea Selatan menunjukkan konsolidasi blok keamanan yang menantang dominasi aliansi AS di kawasan tersebut.
- Reaksi Korea Selatan: Selain Jepang, Korea Selatan (Korsel) juga turut bereaksi. Militer Korsel melaporkan bahwa mereka mengerahkan jet tempur ketika sembilan pesawat tujuh Rusia dan dua China memasuki Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) Korea Selatan, sebuah area peringatan yang berada di luar wilayah udara kedaulatan Korsel.
Jepang dan Korea Selatan adalah lokasi pangkalan militer AS terbesar di luar negeri, termasuk gugus kapal induk dan satuan ekspedisi Marinir. Kehadiran militer AS yang masif ini menjadi penjamin utama keamanan di kawasan, namun juga menjadikannya sasaran utama bagi manuver unjuk kekuatan China dan Rusia.
Analis keamanan internasional melihat manuver B-52 AS dan jet-jet tempur Jepang di Laut Jepang sebagai tindakan penyeimbang yang diperlukan, menunjukkan bahwa aliansi tersebut memiliki kesiapan dan kemampuan untuk merespons setiap potensi ancaman atau perubahan status quo secara cepat dan terkoordinasi. Dengan kedua belah pihak terus memperkuat kehadiran militer dan melancarkan operasi yang berdekatan, risiko salah perhitungan atau insiden tak terduga di langit Asia-Pasifik tetap menjadi kekhawatiran global.

