ANGIN BERITA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta secara resmi menetapkan kenaikan status Pintu Air Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara, menjadi Siaga 2 (Siaga) pada Kamis pagi (8/1/2026). Peningkatan status ini dipicu oleh tren kenaikan tinggi muka air (TMA) yang signifikan akibat fenomena pasang air laut atau banjir rob yang melanda kawasan pesisir utara Jakarta sejak dini hari tadi.
Berdasarkan data pantauan BPBD DKI Jakarta hingga pukul 06.00 WIB, ketinggian air di Pos Pantau Pasar Ikan terus merangkak naik melewati ambang batas normal. Kenaikan ini terjadi di tengah kondisi cuaca di sekitar lokasi yang terpantau mendung tipis hingga berawan. Pihak otoritas memperingatkan bahwa kenaikan status ini berpotensi menyebabkan genangan di sejumlah wilayah pemukiman yang berada di dataran rendah pesisir.
Daftar Wilayah Waspada Banjir dan Rob
Seiring dengan penetapan status Siaga 2, BPBD DKI Jakarta telah mengeluarkan peringatan dini (early warning) agar masyarakat di kawasan Jakarta Utara meningkatkan kesiapsiagaan. Terdapat sembilan wilayah kelurahan yang diprediksi akan terdampak langsung oleh kenaikan air laut ini, antara lain:
- Kamal Muara
- Kapuk Muara
- Penjaringan
- Pluit
- Ancol
- Kamal
- Marunda
- Cilincing
- Kalibaru
BPBD menginstruksikan warga di wilayah tersebut untuk mulai mengamankan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi dan memantau pergerakan air secara berkala. Selain pemukiman, area wisata seperti Ancol dan kawasan pelabuhan juga diminta untuk mewaspadai limpasan air laut yang dapat mengganggu aktivitas operasional.
Kronologi Kenaikan Tinggi Muka Air
Kenaikan debit air di Pintu Air Pasar Ikan mulai terdeteksi sejak pukul 03.00 WIB. Pada waktu tersebut, ketinggian air berada pada level 197 cm atau masih berstatus Siaga 3. Namun, hanya dalam waktu singkat, volume air meningkat drastis. Pada pukul 04.00 WIB, TMA tercatat mencapai 208 cm, yang kemudian memicu perubahan status menjadi Siaga 2.
Hingga laporan terbaru diterbitkan, tinggi muka air stabil di atas angka 215 cm. Sementara itu, sejumlah pintu air lainnya di wilayah Jakarta, seperti Katulampa, Depok, Manggarai, Karet, Krukut Hulu, Pesanggrahan, Angke Hulu, Waduk Pluit, Cipinang Hulu, dan Pulo Gadung, dilaporkan masih berada dalam status Siaga 4 (Normal). Satu-satunya titik lain yang menunjukkan peningkatan adalah Pintu Air Sunter Hulu yang saat ini berstatus Siaga 3 (Waspada).
Langkah Antisipasi dan Respons Cepat Pemprov DKI
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta menyatakan bahwa pihaknya telah mengambil langkah-langkah darurat untuk memitigasi dampak banjir rob ini. Informasi kenaikan status telah disebarluaskan secara masif melalui Media Sosial (X, Instagram, Facebook), aplikasi Jakarta Kini (JAKI), serta pemberitahuan langsung kepada jajaran Camat dan Lurah di wilayah terdampak.
“Kami telah menyiagakan personel dari Tim Reaksi Cepat (TRC) di titik-titik rawan genangan. Koordinasi lintas instansi, termasuk dengan Dinas Sumber Daya Air (SDA) dan Dinas Gulkarmat, terus diperkuat untuk memastikan rumah pompa bekerja maksimal dalam menyedot genangan jika air mulai masuk ke pemukiman,” ujar perwakilan BPBD DKI Jakarta dalam keterangan resminya.
Selain menyiagakan pompa stasioner dan mobile, petugas juga melakukan patroli di sepanjang tanggul pantai untuk memastikan tidak ada rembesan atau kerusakan struktur yang dapat memperparah kondisi. Warga juga diimbau untuk tetap tenang namun waspada, serta menghindari area pesisir untuk sementara waktu.
Imbauan Darurat untuk Masyarakat
Mengingat awal Januari 2026 ini diprediksi akan mengalami siklus pasang air laut yang cukup tinggi, BPBD meminta warga untuk memanfaatkan layanan darurat jika terjadi kondisi kritis.
“Masyarakat yang membutuhkan bantuan evakuasi atau informasi lebih lanjut dapat segera menghubungi layanan Call Center Jakarta Siaga 112. Layanan ini beroperasi 24 jam dan bebas pulsa,” tambahnya.
Fenomena banjir rob di Jakarta Utara merupakan tantangan tahunan, namun kenaikan status menjadi Siaga 2 pada pagi ini menunjukkan adanya tekanan air laut yang lebih kuat dari biasanya. Masyarakat diharapkan terus memantau pembaruan data tinggi muka air melalui kanal resmi pemerintah untuk menghindari simpang siur informasi di lapangan.

