ANGIN BERITA – Publik kembali dikejutkan oleh pernyataan berani dari figur publik Manohara Odelia Pinot. Melalui unggahan terbaru di akun media sosial pribadinya, perempuan yang sempat menghiasi layar kaca Indonesia ini memberikan klarifikasi mendalam yang membedah bayang-bayang masa lalunya. Bukan sekadar curhatan biasa, Manohara menyampaikan fakta hukum dan emosional yang selama ini tersembunyi di balik label “mantan istri” yang disematkan media kepadanya selama belasan tahun.
Meluruskan Label Mantan Istri
Selama ini, masyarakat mengenal Manohara sebagai mantan istri dari Pangeran Kelantan, Tengku Muhammad Fakhry Petra. Namun, dalam surat terbuka yang diunggahnya, Manohara dengan tegas menyatakan bahwa sebutan tersebut tidak akurat dan menyesatkan.
“Selama bertahun-tahun, saya berulang kali disebut dalam artikel dan judul berita sebagai ‘mantan istri’. Saya menulis ini untuk mengklarifikasi bahwa deskripsi itu tidak mencerminkan kenyataan yang terjadi,” tulis Manohara.
Menurutnya, istilah “mantan istri” menyiratkan adanya sebuah ikatan pernikahan yang sah secara hukum, dilakukan dengan persetujuan bersama (konsensual), dan dijalani oleh dua orang dewasa yang matang. Namun, Manohara menegaskan bahwa apa yang ia alami pada tahun 2008 silam adalah sebuah situasi paksaan, di mana saat itu ia masih berusia 15 tahun (di bawah umur), sementara pria yang terlibat sudah berusia 30-an.
Pernikahan yang Tidak Sah
Fakta mengejutkan lainnya yang disampaikan Manohara adalah mengenai status hukum dari hubungan tersebut. Ia menyatakan bahwa peristiwa di masa remajanya itu bukanlah sebuah pernikahan yang sah menurut prinsip keadilan dan kemanusiaan.
“Tidak pernah ada hubungan yang saya inginkan, setujui, atau jalani secara sukarela,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa dalam konteks di mana tidak ada pilihan nyata dan adanya tekanan luar biasa, istilah ‘pernikahan’ tidaklah tepat. Manohara meminta publik dan media untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan diksi, karena cara menyebut sesuatu akan menentukan bagaimana seorang penyintas dipandang oleh masyarakat.
Pengakuan Mengejutkan
Selain soal status pernikahannya, Manohara juga membuat pengakuan yang tak kalah menghebohkan mengenai hubungannya dengan sang ibu, Daisy Fajarina. Selama ini, publik melihat keduanya sangat akrab, terutama saat konflik di Malaysia memuncak. Namun, Manohara kini membongkar bahwa kedekatan itu hanyalah “citra” yang diciptakan untuk kepentingan kontrol.
Manohara mengaku telah memutus total komunikasi (lost contact) dengan ibunya secara sadar. Keputusan ini diambil bukan karena perselisihan mendadak, melainkan akumulasi dari luka psikologis dan emosional yang ia pendam selama bertahun-tahun.
“Saya tidak kehilangan kontak, saya yang memutus kontak. Mempertahankan penampilan kedekatan sangat penting baginya (sang ibu) untuk terlihat baik di mata publik. Citra itu berfungsi sebagai bentuk kontrol,” ungkap Manohara. Ia bahkan menyebut adanya manipulasi dan eksploitasi yang dialaminya demi keuntungan pihak tertentu di masa lalu.
Babak Baru Bersama Kristian Hansen
Di tengah badai klarifikasi tersebut, Manohara juga mulai terbuka mengenai kehidupan pribadinya yang sekarang jauh lebih tenang. Ia dikabarkan tengah menjalin hubungan asmara dengan seorang YouTuber asal Denmark yang menetap di Indonesia, Kristian Hansen.
Kristian dikenal publik melalui konten-konten positifnya yang membangun infrastruktur di pelosok Indonesia. Bagi Manohara, kehadiran Kristian membawa energi baru yang jauh dari toxic di masa lalunya. Hubungan ini seolah menjadi simbol kebebasan Manohara dari belenggu trauma yang selama ini menghantuinya.
Dampak Publik
Klarifikasi Manohara ini memicu diskusi luas di media sosial mengenai pentingnya consent (persetujuan) dan bagaimana media membingkai kasus kekerasan terhadap perempuan. Banyak netizen yang memberikan dukungan moral kepada Manohara, memujinya sebagai sosok yang tangguh karena berani bersuara setelah sekian lama.
Dengan pernyataan ini, Manohara berharap tidak ada lagi narasi yang menyudutkannya dengan label masa lalu yang keliru. Ia ingin dikenal sebagai dirinya sendiri seorang aktivis lingkungan dan individu yang berdaulat atas hidupnya sendiri.

