ANGIN BERITA – Operasi yang diberi sandi “Operation Southern Spear” (atau dalam beberapa laporan disebut Operation Absolute Resolve) ini dilakukan oleh pasukan elite AS, termasuk Delta Force dan tim khusus FBI, di bawah perintah langsung Presiden Donald Trump. Operasi dimulai pada Sabtu dini hari di kediaman Maduro di Caracas.
Menurut keterangan resmi, pasukan AS menembus pengamanan ketat yang melindungi Maduro, termasuk pintu baja yang dirancang khusus. Dalam hitungan detik, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, berhasil diamankan tanpa perlawanan berarti. Trump menyaksikan jalannya operasi ini secara langsung melalui sistem pemantauan di kediamannya, Mar-a-Lago, Florida.
Usai ditangkap, Maduro segera diterbangkan menggunakan helikopter menuju pangkalan militer dan kemudian dibawa dengan kapal induk USS Iwo Jima menuju New York. Pada Senin, 5 Januari 2026, Maduro dijadwalkan menjalani sidang perdana di pengadilan federal Manhattan untuk menghadapi serangkaian dakwaan berat.
Dari Sopir Bus hingga Penguasa Tunggal
Lahir pada 23 November 1962 di Caracas, Nicolas Maduro Moros tumbuh dalam keluarga kelas pekerja. Latar belakangnya yang unik sering kali ia gunakan sebagai alat politik untuk menarik simpati kaum buruh.
- Awal Karier: Sebelum terjun ke politik, Maduro adalah seorang sopir bus di Caracas dan aktif sebagai pemimpin serikat pekerja transportasi.
- Kedekatan dengan Hugo Chavez: Karier politiknya melesat berkat kesetiaannya kepada mendiang Presiden Hugo Chavez. Ia terlibat dalam upaya pembebasan Chavez dari penjara setelah kudeta yang gagal pada 1992.
- Jabatan Penting: Di bawah pemerintahan Chavez, Maduro menjabat sebagai Presiden Majelis Nasional (2005–2006) dan Menteri Luar Negeri (2006–2012). Sebelum Chavez wafat pada 2013, ia secara eksplisit menunjuk Maduro sebagai penerusnya.
- Menjadi Presiden: Maduro memenangkan pemilu khusus pada April 2013 dengan kemenangan tipis. Sejak saat itu, ia mengonsolidasi kekuasaan melalui dekrit dan dianggap oleh oposisi serta banyak negara Barat sebagai pemimpin otoriter.
Krisis dan Kontroversi Selama Kepemimpinan
Masa jabatan Maduro ditandai dengan keruntuhan ekonomi paling spektakuler dalam sejarah modern Venezuela. Meskipun memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, Venezuela di bawah Maduro mengalami:
- Hiperinflasi: Nilai mata uang Bolivar hancur total, mencapai tingkat inflasi ratusan ribu persen.
- Eksodus Massal: Lebih dari 7 juta warga Venezuela bermigrasi ke luar negeri karena krisis pangan dan obat-obatan.
- Pelanggaran HAM: PBB menuduh pemerintahan Maduro melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk penindakan keras terhadap demonstran pada 2014, 2017, dan setelah pemilu 2024 yang dianggap curang.
Dakwaan Berat yang Menanti di Amerika Serikat
Penangkapan Maduro didasarkan pada dakwaan yang telah disiapkan oleh Departemen Kehakiman AS sejak tahun 2020, yang diperkuat dengan bukti-bukti baru. Dakwaan tersebut meliputi:
- Konspirasi Narko-Terorisme: Maduro dituduh memimpin Cartel de los Soles (Kartel Matahari), sebuah organisasi yang terdiri dari pejabat tinggi militer dan politik Venezuela untuk menyelundupkan kokain ke AS.
- Impor Kokain: AS menuduh Maduro bekerja sama dengan kelompok gerilya Kolombia (FARC) dan kartel Meksiko untuk mengirim ribuan ton kokain.
- Pelanggaran Senjata: Kepemilikan dan penggunaan perangkat peledak serta senapan mesin untuk memfasilitasi perdagangan narkoba.
Pemerintah AS menyatakan bahwa tindakan ini bukanlah invasi, melainkan upaya penegakan hukum internasional untuk menghentikan negara yang dianggap sebagai “narkostate”.
Reaksi Dunia: Pro dan Kontra
Langkah drastis Amerika Serikat ini memicu reaksi beragam dari komunitas internasional:
- Kecaman: China, Rusia, dan Korea Utara mengecam keras tindakan tersebut, menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan negara dan hukum internasional.
- Keprihatinan: PBB dan beberapa negara Eropa menyatakan kekhawatiran atas stabilitas kawasan Amerika Latin pasca-penangkapan ini.
- Dukungan: Kelompok oposisi Venezuela, yang kini dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Maria Corina Machado (penerima Nobel Perdamaian 2025), melihat ini sebagai peluang untuk transisi demokrasi.
Saat ini, Venezuela berada dalam masa transisi yang tidak menentu. Wakil Presiden Delcy Rodriguez sempat mengklaim kepemimpinan sebagai penjabat presiden, sementara AS mulai memimpin upaya stabilisasi ekonomi di negara tersebut.

