Setahun Agresi Israel Serang 6 Negara, Palestina Dihantam 8.332 Kali!

Setahun Agresi: Israel Serang 6 Negara, Palestina Dihantam 8.332 Kali!

ANGIN BERITA – Tahun 2025 tercatat sebagai salah satu periode paling berdarah dalam sejarah modern Timur Tengah. Di bawah kebijakan militer yang semakin agresif, Israel dilaporkan telah melancarkan serangan udara, darat, maupun laut ke sedikitnya enam negara berbeda sepanjang tahun ini. Data terbaru yang dihimpun oleh lembaga pemantau konflik internasional ACLED (Armed Conflict Location & Event Data) mengungkapkan statistik yang mengerikan: wilayah Palestina sendiri telah dihantam sebanyak 8.332 kali aksi militer Israel hingga awal Desember 2025.

Ekspansi militer ini menandai pergeseran strategi Tel Aviv yang kini tidak lagi membatasi operasi tempurnya di wilayah perbatasan, melainkan menjangkau target-target jauh di jantung negara-negara Arab dan Teluk.

Rekapitulasi Serangan: Palestina Menjadi Titik Terparah

Sepanjang tahun 2025, intensitas serangan di Jalur Gaza dan Tepi Barat yang diduduki tetap menjadi yang tertinggi di dunia. Dari total 8.332 serangan yang tercatat, mayoritas diarahkan ke Jalur Gaza yang kini sebagian besar wilayahnya telah rata dengan tanah.

  • Jalur Gaza: Mengalami lebih dari 7.000 serangan udara dan artileri. Meski sempat terjadi gencatan senjata singkat pada awal tahun (Januari – Maret 2025), agresi kembali pecah dengan operasi berskala besar yang dinamakan “Operation Gideon’s Chariots” pada bulan Mei.
  • Tepi Barat: Tercatat lebih dari 1.300 serangan, termasuk operasi militer besar-besaran di Jenin, Tulkarem, dan kamp pengungsi Nur Shams. Kekerasan pemukim ilegal Israel juga dilaporkan mencapai rekor tertinggi dengan rata-rata lima serangan per hari terhadap warga sipil Palestina.

Korban jiwa di pihak Palestina pada akhir 2025 diperkirakan telah melampaui angka 68.000 jiwa sejak konflik pecah di Oktober 2023, dengan lebih dari 16.000 korban tewas tercatat hanya dalam kurun waktu tahun 2025 saja.

Perluasan Konflik ke 6 Negara

Israel menjadi satu-satunya negara di dunia pada tahun 2025 yang melakukan operasi militer aktif di enam wilayah kedaulatan negara lain secara simultan. Berikut adalah rincian serangan Israel di luar Palestina menurut data Al Jazeera dan ACLED:

  1. Lebanon (1.653 Serangan): Israel secara rutin membombardir wilayah selatan Lebanon, Lembah Bekaa, hingga Beirut dengan alasan menargetkan infrastruktur Hizbullah.
  2. Suriah (207 Serangan): Serangan udara sering kali menyasar gudang senjata dan fasilitas militer di sekitar Damaskus dan Aleppo, yang dituduh Israel sebagai jalur pasokan senjata dari Iran.
  3. Iran (379 Serangan): Puncak ketegangan terjadi pada Juni 2025 melalui “Perang 12 Hari”, di mana Israel melakukan serangan langsung ke fasilitas nuklir, energi, dan pangkalan militer di dalam wilayah Iran.
  4. Yaman (48 Serangan): Israel menargetkan kelompok Houthi di Sana’a dan pelabuhan Hodeidah. Salah satu serangan paling mematikan terjadi pada Agustus 2025 yang menewaskan sejumlah pejabat tinggi Houthi.
  5. Qatar (1 Serangan): Dalam sebuah langkah yang mengejutkan komunitas internasional pada September 2025, Israel dilaporkan melakukan operasi infiltrasi/serangan terbatas di Qatar dengan target pemimpin politik kelompok perlawanan.
  6. Tunisia: Selain serangan udara, Israel juga dilaporkan melakukan pelanggaran kedaulatan di wilayah perairan Tunisia, serta beberapa wilayah perairan internasional lainnya seperti Yunani dan Malta dalam misi intelijen laut.

Dampak Kemanusiaan dan Genosida

Laporan PBB dan Komisi Internasional Independen pada September 2025 secara tegas menyatakan bahwa otoritas keamanan Israel telah melakukan tindakan yang mengarah pada genosida di Jalur Gaza. Penggunaan kelaparan sebagai senjata perang kembali dilaporkan pada Maret 2025 ketika Israel memutus total pasokan makanan dan obat-obatan, serta menghancurkan loji penyahgaraman utama yang memutus akses air bersih bagi jutaan orang.

Di Tepi Barat, perluasan pemukiman ilegal terjadi secara masif. Hingga November 2025, sedikitnya 19 unit pemukiman baru diresmikan di tanah Palestina, memicu kecaman internasional yang luas namun gagal menghentikan eskalasi di lapangan.

Geopolitik 2025: Campur Tangan Kekuatan Besar

Eskalasi besar-besaran ini tidak lepas dari dinamika politik global. Kembalinya Donald Trump ke kursi kepresidenan Amerika Serikat pada Januari 2025 memberikan angin segar bagi kebijakan militer Benjamin Netanyahu. Dukungan militer AS tetap mengalir deras, termasuk penjualan bom Mk-84 seberat 2.000 pon senilai miliaran dolar yang digunakan dalam kampanye udara di Gaza dan Lebanon.

Di sisi lain, Indonesia melalui Presiden Prabowo Subianto secara konsisten menyuarakan pembelaan terhadap Palestina di forum PBB, mengutuk agresi Israel, dan mendesak komunitas internasional untuk memberikan sanksi ekonomi nyata terhadap Tel Aviv.