ANGIN BERITA – Memasuki tahun 2026, optimisme terhadap sektor properti di Indonesia semakin menguat. Setelah melewati masa transisi kebijakan pada 2024-2025, para analis memproyeksikan tahun 2026 sebagai “fase akselerasi” bagi industri perumahan dan komersial. Berbagai stimulus pemerintah, stabilitas suku bunga, hingga pertumbuhan kawasan kota mandiri menjadi motor utama yang akan membuat sektor ini kembali bergairah.
Sentimen Positif: Suku Bunga dan Insentif Pemerintah
Faktor utama yang memicu proyeksi positif ini adalah tren penurunan suku bunga acuan. Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menjaga kebijakan moneter yang lebih akomodatif guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 4,9%–5,7% pada 2026. Penurunan suku bunga acuan (BI Rate) yang diprediksi bisa turun hingga 50 basis poin (bps) di sepanjang 2026 akan menjadi katalis utama bagi penurunan suku bunga KPR.
Selain itu, kebijakan fiskal pemerintah memberikan “napas panjang” bagi pengembang. Perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 100% untuk hunian dengan harga hingga Rp5 miliar menjadi daya tarik luar biasa bagi konsumen kelas menengah. Dukungan ini diharapkan dapat menekan angka backlog perumahan yang masih tinggi di Indonesia.
Segmen yang Menjadi Primadona
Pada 2026, tren properti tidak lagi hanya berfokus pada pusat kota Jakarta, melainkan bergeser ke kawasan penyangga (suburban) dan kota mandiri (township).
- Hunian Tapak (Landed House): Tetap menjadi penggerak utama pasar karena permintaan dari keluarga muda dan kelas menengah yang mencari kenyamanan lingkungan.
- Properti Logistik & Industri: Tumbuhnya ekonomi digital dan manufaktur meningkatkan kebutuhan akan gudang modern dan lahan industri.
- Kawasan Berbasis TOD: Pengembangan properti di sekitar jalur MRT, LRT, dan KRL kian diminati karena faktor efisiensi transportasi.
Daftar Saham Properti yang Patut Dilirik
Bagi investor, momentum ini menjadi waktu yang tepat untuk mencermati saham-saham properti dengan fundamental kuat dan cadangan lahan (landbank) yang strategis. Berikut adalah beberapa saham pilihan:
1. PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI)
PANI menjadi bintang baru di sektor properti berkat pengembangan kawasan PIK 2 yang sangat agresif. Perusahaan secara konsisten melakukan suntikan modal ke anak usaha untuk mempercepat pembangunan. PANI diprediksi akan terus mencatatkan pertumbuhan marketing sales yang signifikan di 2026 seiring dengan selesainya berbagai fasilitas infrastruktur di kawasan tersebut.
2. PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)
Sebagai pengembang kota mandiri terbesar, BSDE memiliki landbank yang sangat luas di Tangerang. Keunggulan BSDE terletak pada diversifikasi portofolionya yang mencakup residensial, perkantoran, hingga ritel. Penurunan suku bunga akan sangat menguntungkan BSDE yang mayoritas penjualannya didukung oleh skema KPR.
3. PT Ciputra Development Tbk (CTRA)
CTRA dikenal dengan diversifikasi geografisnya yang paling luas di Indonesia. Dengan proyek yang tersebar di lebih dari 30 kota, CTRA sangat tangguh dalam menghadapi fluktuasi pasar lokal. Model bisnisnya yang stabil membuat saham ini sering menjadi pilihan utama investor institusi di sektor properti.
4. PT Pakuwon Jati Tbk (PWON)
Jika Anda mencari eksposur pada pendapatan berulang (recurring income), PWON adalah jagonya. Dominasi mereka di sektor pusat perbelanjaan (mall) di Jakarta dan Surabaya memberikan stabilitas arus kas yang kuat, yang kemudian digunakan untuk mendanai pengembangan proyek hunian baru.
Tabel Ringkasan Proyeksi 2026
| Faktor Penggerak | Dampak ke Sektor Properti |
| Suku Bunga (BI Rate) | Diprediksi turun 50 bps, memicu bunga KPR lebih murah. |
| Insentif PPN DTP | Berlanjut hingga 2026, menjaga daya beli rumah pertama. |
| Pertumbuhan Ekonomi | Target PDB 4,9%–5,7% meningkatkan kepercayaan konsumen. |
| Infrastruktur | Konektivitas MRT/LRT fase baru meningkatkan nilai lahan. |

