Viral di Media Sosial, Seorang Wanita Tinggal di Bandara KLIA Manfaatkan Wi-Fi Gratis

Viral di Media Sosial, Seorang Wanita Tinggal di Bandara KLIA Manfaatkan Wi-Fi Gratis

ANGIN BERITA – Sebuah video yang kini menjadi viral di sejumlah platform media sosial, terutama Threads dan TikTok, memicu perbincangan luas setelah menampilkan seorang wanita yang diduga telah tinggal di dalam Terminal 1 Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA), Malaysia, selama hampir satu tahun. Dalam rekaman yang beredar, wanita tersebut terlihat duduk di kursi tunggu dengan sejumlah troli berisi barang-barang pribadinya, seolah menjadikan ruang publik bandara sebagai tempat tinggalnya sehari-hari.

Dalam klip yang diambil oleh penumpang dan kemudian diunggah ke media sosial, tampak wanita itu memakai Wi-Fi gratis bandara, memanfaatkan fasilitas pendingin udara, serta sarana lain seperti kursi tunggu untuk tidur dan menempatkan barang-barang miliknya. Beberapa netizen membandingkan kejadian ini dengan film terkenal The Terminal yang dibintangi Tom Hanks di mana tokoh utama terpaksa tinggal di bandara karena masalah dokumen internasional. Namun, dalam kasus nyata ini, alasan di balik kehadirannya dalam waktu lama belum sepenuhnya jelas.

Perilaku dan Reaksi Publik dalam Video

Rekaman yang beredar tidak hanya menampilkan kondisi hidup sehari-hari di bandara, tetapi juga memperlihatkan saat wanita itu tampak berdebat dengan pengunjung lain. Dalam salah satu adegan, dia terlihat marah dan menghardik anak-anak yang bermain di sekitar area tempat duduknya. Seorang penumpang lain bahkan tampak mencoba menenangkannya ketika suasana menjadi tegang.

Penampilannya yang khas dengan kacamata hitam meskipun berada di dalam bandara, legging hitam, dan atasan santai semakin menarik perhatian warganet, yang kemudian memperdebatkan bagaimana seseorang bisa berada di fasilitas umum seperti bandara internasional selama waktu yang sangat panjang tanpa ada intervensi yang lebih dini dari otoritas bandara.

Tanggapan Pihak Berwajib

Pihak berwajib Malaysia telah merespons viralnya video tersebut dengan tindakan nyata. Menurut keterangan dari Wakil Kepala Kepolisian Distrik KLIA, Inspektur Albany Hamzah, wanita tersebut telah ditangkap oleh polisi pada 18 Desember 2025 setelah beberapa pengunjung melaporkan gangguan yang diakibatkan oleh perilakunya di terminal. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa ia adalah seorang warga negara Malaysia dan memiliki kartu identitas terkait kesehatan mental. Ia kemudian dirujuk ke Hospital Kajang untuk mendapatkan perawatan yang lebih tepat.

Pihak kepolisian juga menyatakan bahwa mereka telah menerima berbagai laporan dari pengunjung bandara terkait perilaku wanita itu, termasuk insiden di mana ia menegur orang lain dan menciptakan suasana tidak nyaman di area keberangkatan. Pemeriksaan terhadap latar belakangnya kini masih terus dilakukan, termasuk kemungkinan masalah kesehatan mental yang lebih serius.

Selain kasus wanita ini, beberapa laporan juga menyebutkan bahwa ada puluhan individu yang pernah atau sedang menggunakan sebagian area KLIA sebagai tempat berteduh sementara, meskipun tidak banyak dari mereka tinggal secara terus menerus selama setahun penuh. Beberapa individu dilaporkan berpindah-pindah antara terminal dan wilayah sekitar ibu kota untuk menghindari aksinya dipantau atau diusir oleh petugas keamanan.

Pertanyaan dan Kritik dari Masyarakat

Kisah yang kini ramai dibicarakan ini telah memicu beragam reaksi dari netizen dan masyarakat luas. Banyak yang mempertanyakan bagaimana seseorang apalagi di fasilitas yang dikontrol ketat seperti bandara internasional bisa begitu lama menetap tanpa ada tindakan atau pendataan sebelumnya oleh pihak berwenang.

Beberapa warganet menilai bahwa kejadian ini menunjukkan kekurangan sistem pengawasan di terminal kedatangan dan keberangkatan KLIA, sementara yang lain menyoroti masalah sosial yang lebih luas, seperti penanganan tunawisma dan kesehatan mental di masyarakat. Diskusi ini juga memicu perdebatan tentang polisi dan keamanan bandara: apakah mereka telah cukup responsif atau justru terlalu lambat menyikapi situasi yang berkembang di fasilitas publik sebesar itu.

Pembelajaran dari Kejadian Serupa

Kisah orang yang tinggal di bandara bukanlah sesuatu yang benar-benar baru di kancah global. Sejarah mencatat beberapa kasus terkenal seperti Hassan Al Kontar, seorang pria yang tinggal di Bandara Charles de Gaulle, Prancis, selama bertahun-tahun karena status pengungsi yang tidak jelas yang kemudian menarik perhatian internasional. Kasus-kasus tersebut sering menunjukkan kegagalan sistem imigrasi, masalah kesehatan mental, atau kebutuhan akan solusi sosial yang lebih manusiawi.

Namun, yang membedakan kejadian di Malaysia ini adalah viralnya rekaman video di era media sosial modern, yang mempercepat penyebaran informasi sekaligus kritik publik terhadap otoritas terkait.