Akhir Pohon Prometheus, Pohon Tertua 4.900 Tahun yang Dikorbankan demi Ilmu

Akhir Pohon Prometheus, Pohon Tertua 4.900 Tahun yang Dikorbankan demi Ilmu

ANGIN BERITA – Dunia sains dan lingkungan kembali menyoroti kisah tragis Pohon Prometheus, sebuah pohon pinus bristlecone ( Pinus longaeva ) yang pernah dinobatkan sebagai pohon tertua yang diketahui manusia. Dengan usia mencapai sekitar 4.900 tahun, Pohon Prometheus menjadi simbol ketahanan alam sekaligus contoh kontroversial tentang bagaimana ilmu pengetahuan pernah mengorbankan warisan alam yang tak tergantikan.

Pohon Prometheus tumbuh di Pegunungan White, Nevada, Amerika Serikat, sebuah kawasan terpencil yang dikenal sebagai rumah bagi pinus bristlecone tertua di dunia. Pohon-pohon di wilayah ini mampu bertahan ribuan tahun berkat iklim ekstrem: tanah miskin nutrisi, suhu dingin, dan curah hujan yang rendah. Kondisi keras tersebut justru memperlambat pertumbuhan mereka, membuat kayunya sangat padat dan tahan terhadap pembusukan.

Nama “Prometheus” sendiri diambil dari tokoh mitologi Yunani yang melambangkan pengorbanan dan penderitaan demi pengetahuan. Ironisnya, nama tersebut kemudian menjadi cerminan nasib pohon itu sendiri.

Pada tahun 1964, seorang peneliti pascasarjana bernama Donald R. Currey melakukan penelitian tentang iklim purba dengan mempelajari lingkaran pertumbuhan pohon (dendrokronologi). Tujuannya adalah merekonstruksi sejarah iklim ribuan tahun lalu melalui sampel kayu dari pinus bristlecone. Currey awalnya mencoba mengambil sampel inti menggunakan bor khusus, metode yang biasanya tidak mematikan pohon. Namun, alat tersebut tidak mampu menembus kayu Pohon Prometheus yang sangat keras.

Dengan izin dari Dinas Kehutanan Amerika Serikat (U.S. Forest Service), pohon tersebut akhirnya ditebang sepenuhnya untuk dianalisis. Keputusan itu pada saat tersebut dianggap wajar, karena usia pasti Pohon Prometheus belum diketahui. Baru setelah penebangan selesai dan analisis dilakukan, terungkap bahwa pohon itu berusia sekitar 4.900 tahun menjadikannya organisme hidup tertua yang pernah diketahui saat itu.

Pengungkapan usia tersebut memicu gelombang kritik dan penyesalan. Banyak ilmuwan dan aktivis lingkungan menyebut penebangan Pohon Prometheus sebagai salah satu kesalahan terbesar dalam sejarah konservasi modern. Pohon yang telah hidup sejak sebelum piramida Mesir dibangun itu hilang selamanya, bukan karena bencana alam, melainkan akibat keputusan manusia.

Seiring waktu, kisah Pohon Prometheus menjadi pelajaran penting dalam etika penelitian ilmiah. Standar penelitian lingkungan kini jauh lebih ketat dibandingkan era 1960-an. Pengambilan sampel dari organisme langka atau berusia sangat tua harus melalui penilaian risiko yang mendalam, serta mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap ekosistem dan warisan alam.

Menariknya, setelah penebangan Prometheus, para ilmuwan menemukan pohon pinus bristlecone lain yang bahkan lebih tua, seperti pohon yang dikenal dengan nama “Methuselah”, yang diperkirakan berusia lebih dari 4.800 tahun dan hingga kini masih hidup. Lokasi pasti pohon-pohon tertua ini kini dirahasiakan demi melindungi mereka dari vandalisme dan eksploitasi.

Dalam konteks terkini, kisah Pohon Prometheus kembali relevan di tengah meningkatnya perhatian global terhadap krisis iklim dan pelestarian lingkungan. Pohon-pohon tua bukan hanya objek penelitian, tetapi juga arsip hidup yang menyimpan informasi berharga tentang perubahan iklim, pola cuaca ekstrem, dan daya tahan ekosistem bumi.

Banyak pihak menilai bahwa tragedi Pohon Prometheus menjadi titik balik dalam cara manusia memandang alam: bukan sekadar sumber data atau bahan penelitian, melainkan entitas yang memiliki nilai intrinsik. Ilmu pengetahuan modern kini dituntut untuk berjalan seiring dengan prinsip kehati-hatian dan tanggung jawab moral.

Meski Pohon Prometheus telah lama tiada, warisannya tetap hidup dalam diskusi ilmiah dan kebijakan konservasi. Ia menjadi pengingat bahwa pencarian pengetahuan, betapapun pentingnya, tidak boleh mengorbankan sesuatu yang tak dapat digantikan. Dalam diamnya Pegunungan White, kisah Prometheus terus bergema sebuah pelajaran tentang batas antara rasa ingin tahu manusia dan kewajiban untuk menjaga bumi.