Warga Resah, Sampah Menumpuk di Bawah Flyover Ciputat

Warga Resah, Sampah Menumpuk di Bawah Flyover Ciputat

ANGIN BERITA – Warga dan pengguna jalan di kawasan Flyover Ciputat, Kota Tangerang Selatan, tengah resah akibat menumpuknya sampah di bawah kolong flyover. Tumpukan sampah yang dibiarkan selama beberapa hari terakhir menimbulkan bau menyengat yang mengganggu aktivitas masyarakat di sekitarnya. Kondisi ini menjadi perhatian karena mencerminkan tantangan pengelolaan sampah di wilayah perkotaan yang terus meningkat.

Tumpukan Sampah Menggunung di Area Strategis

Pantauan lapangan menunjukkan tumpukan sampah di bawah flyover mencapai ketinggian hingga hampir satu meter di beberapa titik. Sampah yang menumpuk terdiri dari sisa rumah tangga, plastik, kertas, potongan kayu, bahkan kasur bekas. Trotoar yang biasanya menjadi jalur pejalan kaki kini hampir tertutup oleh sampah, memaksa warga dan pengendara berhati-hati saat melintas.

Selain itu, sampah yang menumpuk juga mulai mengeluarkan cairan lindi yang mengalir ke jalan, menambah aroma busuk dan menciptakan kondisi lingkungan yang tidak higienis. Kondisi ini tidak hanya terlihat di bawah flyover, tetapi juga di sepanjang trotoar dari arah Ciputat menuju Pamulang, memperlihatkan bahwa masalah pengangkutan sampah di wilayah ini sedang terganggu.

Bau Tak Sedap Mengganggu Aktivitas Warga

Masalah utama yang dikeluhkan warga adalah bau sampah yang sangat menyengat, terutama saat angin bertiup atau setelah hujan. Warga yang melintas terpaksa menutup hidung agar tidak terganggu. Lalat dan serangga lain juga terlihat beterbangan di sekitar tumpukan sampah, meningkatkan potensi risiko penyakit.

Pedagang di sekitar kawasan pun ikut terdampak. Beberapa pemilik warung kopi dan makanan mengaku omset menurun karena pelanggan enggan datang akibat bau menyengat. Sebagian pedagang bahkan harus menutup warung lebih cepat dari biasanya untuk menghindari gangguan dari aroma busuk.

Keluhan Warga dan Upaya Penanganan Sementara

Warga sekitar flyover mencoba menjaga agar sampah tidak semakin menumpuk dengan memasang papan peringatan dan meminta masyarakat tidak membuang sampah sembarangan. Namun, upaya ini dirasa masih kurang efektif karena belum ada tindakan pengangkutan resmi dari pihak terkait.

Beberapa warga menyatakan frustrasi karena armada pengangkut sampah jarang terlihat di lokasi. Biasanya, pengangkutan dilakukan rutin setiap hari, bahkan dua kali sehari, tetapi belakangan ini tertunda. Ketiadaan pengangkutan ini membuat tumpukan sampah semakin menggunung dan mengganggu lingkungan sekitar.

Penyebab Penumpukan Sampah

Menurut keterangan warga dan pengamatan lapangan, penyebab utama penumpukan sampah ini adalah penutupan sementara Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang. Penutupan dilakukan untuk perbaikan fasilitas dan penataan timbunan sampah agar pengoperasian TPA dapat kembali optimal. Akibatnya, armada pengangkut sampah tidak bisa membuang sampah secara normal, sehingga menumpuk di sejumlah titik strategis, termasuk di bawah flyover Ciputat.

Kondisi ini menunjukkan betapa sistem pengelolaan sampah yang bergantung pada satu lokasi pembuangan dapat rentan terhadap gangguan operasional.

Tanggapan Pemerintah Kota

Pemerintah Kota Tangerang Selatan menyadari adanya penumpukan sampah dan menyatakan sedang melakukan penanganan darurat. Wali Kota menekankan bahwa perbaikan TPA memang berdampak pada ritme pengangkutan sampah, tetapi pemerintah berkomitmen untuk menyelesaikan perbaikan dan memastikan armada pengangkut kembali beroperasi normal.

Selain itu, pemerintah kota juga sedang mengevaluasi sistem pengelolaan sampah untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Salah satu rencana jangka panjang adalah menambah tempat penampungan sementara dan memperluas jangkauan pengangkutan untuk mengurangi ketergantungan pada satu TPA.

Dampak Kesehatan dan Lingkungan

Selain mengganggu kenyamanan warga, tumpukan sampah di bawah flyover juga berpotensi menjadi sarang penyakit. Lalat, tikus, dan serangga lain yang berkembang biak di tumpukan sampah dapat menjadi vektor penyakit, sementara bau menyengat menimbulkan risiko gangguan pernapasan bagi warga sekitar, terutama anak-anak dan lansia.

Para ahli lingkungan mengingatkan bahwa pengelolaan sampah yang buruk tidak hanya berdampak pada estetika kota, tetapi juga kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, upaya penanganan darurat dan perbaikan sistem pengangkutan harus segera dilakukan.