ANGIN BERITA – Raksasa kendaraan listrik (EV) global asal Tiongkok, Build Your Dreams (BYD), secara terang-terangan menobatkan Indonesia sebagai negara dengan laju perkembangan pasar EV tercepat di dunia. Pernyataan ini didasarkan pada data peningkatan penetrasi EV nasional yang melesat secara “ajaib” hanya dalam kurun waktu dua tahun, sebuah akselerasi yang melampaui pengalaman di pasar EV global lainnya, termasuk Tiongkok sendiri.
Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia, Eagle Zhao, mengungkapkan kekagumannya dalam sebuah acara media di Sentul, Kamis (11/12/2025). Menurutnya, pasar EV Indonesia telah melonjak dari penetrasi hanya 2 persen pada tahun 2023 menjadi 12 persen pada tahun 2025.
“Bayangkan, dari 2 persen menjadi 12 persen hanya dalam dua tahun. Ini adalah pertumbuhan 500 persen, sebuah keajaiban bagi Indonesia,” ujar Zhao.
Zhao menyoroti perbandingan dengan pasar domestik BYD, Tiongkok, yang membutuhkan setidaknya delapan tahun untuk mencapai peningkatan penetrasi dari 2 persen ke 12 persen. Akselerasi super cepat yang terjadi di Indonesia ini membuktikan keberhasilan kolaborasi antara dukungan kebijakan pemerintah, kesiapan infrastruktur, dan penerimaan masyarakat yang semakin tinggi terhadap kendaraan ramah lingkungan.
Dominasi Pasar dan Kepercayaan Publik
Keberhasilan BYD dalam memimpin klaim ini tidak lepas dari dominasi mereka di pasar domestik. Sepanjang periode Januari hingga November 2025, BYD berhasil menjadi merek mobil listrik terlaris di Indonesia dengan mencatatkan pangsa pasar (market share) sebesar 57 persen dari total pasar EV nasional.
Angka penjualan yang fantastis ini, ditambah dengan pengiriman unit ke diler yang mencapai 47.300 unit (untuk merek BYD dan Denza) hingga November 2025, bahkan sudah melampaui total penjualan seluruh kendaraan BEV (Battery Electric Vehicle) di Indonesia sepanjang tahun 2024. Penjualan yang meroket ini didorong oleh model-model unggulan seperti BYD ATTO 1.
Secara mengejutkan, BYD ATTO 1 bahkan berhasil mendepak mobil-mobil yang secara tradisional menjadi ‘raja jalanan’ Indonesia, seperti Toyota Avanza dan Kijang Innova, dari posisi teratas dalam daftar mobil terlaris bulanan pada Oktober dan November 2025. Pencapaian ini menunjukkan pergeseran preferensi konsumen yang mulai mengutamakan efisiensi, teknologi, dan biaya operasional rendah yang ditawarkan EV dalam mobilitas perkotaan.
Peran Sentral Kebijakan Pemerintah dan Edukasi
Zhao secara eksplisit memberikan apresiasi besar terhadap peran pemerintah Indonesia dalam mendorong momentum ini. Dukungan kebijakan berupa insentif pajak, seperti PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) yang mensyaratkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 persen, menjadi katalis utama yang membuat harga jual EV lebih kompetitif dan terjangkau bagi konsumen lokal.
Selain insentif, BYD juga melihat bahwa perkembangan ini didukung oleh:
- Pembangunan Ekosistem Infrastruktur: Peningkatan ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang semakin masif, baik oleh BUMN maupun swasta, termasuk penambahan DC fast charger di diler resmi BYD.
- Edukasi Publik: Upaya konsisten dari pelaku industri dan media dalam memberikan literasi mengenai teknologi EV, terutama terkait keamanan baterai dan efisiensi operasional.
Eagle Zhao menegaskan bahwa era transisi elektrifikasi masih memerlukan dukungan pemerintah. Ia berharap agar kebijakan insentif untuk EV dapat diperpanjang, terutama mengingat BYD sendiri sudah menyatakan kesiapan untuk memulai produksi lokal di Indonesia pada Kuartal I-2026, sebagai bentuk komitmen jangka panjang.
Komitmen Jangka Panjang dan Tantangan ke Depan
Keseriusan BYD tidak hanya berhenti pada penjualan, tetapi juga pada penguatan ekosistem secara menyeluruh. Dengan rencana pembangunan pabrik di Indonesia, BYD akan memastikan ketersediaan pasokan, menekan biaya produksi melalui pemanfaatan sumber daya alam lokal seperti nikel untuk produksi baterai Blade Battery, dan pada akhirnya membuat harga EV lebih kompetitif.
Meskipun demikian, masa depan pasar EV di Indonesia masih dihadapkan pada tantangan, khususnya terkait keberlanjutan insentif. Menjelang berakhirnya insentif impor pada akhir tahun 2025, diskusi mengenai kebijakan subsidi 2026 menjadi krusial. Namun, melihat lonjakan permintaan yang fenomenal, BYD yakin bahwa tren elektrifikasi di Indonesia, yang kini diakui sebagai yang tercepat, adalah sebuah gelombang yang sulit dihentikan.
“Indonesia mencapainya kurang dari dua tahun. Ini luar biasa. Kami berkomitmen untuk membangun ekosistem NEV (New Energy Vehicle) terlengkap ke depannya dan mendukung industri dalam negeri melalui produksi lokal,” tutup Zhao, menandaskan optimisme BYD terhadap masa depan mobilitas listrik Tanah Air

