China Kerahkan 100 Kapal Perang & Jet Tempur Ada Apa Xi Jinping

China Kerahkan 100 Kapal Perang & Jet Tempur: Ada Apa Xi Jinping?

ANGIN BERITA – Pengerahan kekuatan maritim yang belum pernah terjadi sebelumnya oleh Tiongkok di perairan Asia Timur telah memicu kekhawatiran global. Di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dikabarkan telah mengerahkan lebih dari 100 kapal perang dan kapal penjaga pantai, didukung oleh aktivitas intensif dari jet tempur. Langkah demonstrasi kekuatan militer ini, yang mencapai puncaknya di awal pekan ini, telah menaikkan suhu ketegangan di kawasan yang sudah rentan terhadap konflik.

Unjuk Kekuatan di Perairan Strategis

Menurut laporan intelijen dan pemantauan dari berbagai negara di kawasan, termasuk Jepang dan Taiwan, pengerahan besar-besaran ini terjadi di area-area strategis, khususnya di sekitar Selat Taiwan dan perairan yang disengketakan di Laut China Selatan serta Laut China Timur. Meskipun Tiongkok tidak mengeluarkan pengumuman resmi mengenai latihan militer berskala besar, skala dan jumlah unit yang dikerahkan yang mencapai puncaknya di atas 100 kapal sebelum sedikit menurun mengindikasikan bahwa ini bukan sekadar patroli rutin.

Sumber-sumber anonim menyebutkan bahwa pengerahan ini melibatkan berbagai jenis kapal, mulai dari kapal perusak (destroyer) canggih hingga frigat, serta kapal-kapal penjaga pantai yang semakin banyak digunakan Beijing untuk menegaskan klaim teritorialnya.

“Ada pelayaran besar,” kata salah satu sumber kepada media internasional. “Tetapi tampaknya (aktivitas ini) hanya latihan rutin.”

Meskipun pernyataan tersebut mencoba meredam spekulasi, pemantauan ketat dari negara-negara tetangga menunjukkan bahwa simulasi serangan terhadap kapal asing dan latihan untuk menghalangi akses ke kawasan tertentu turut dilakukan, menunjukkan kesiapan operasional yang tinggi.

Latar Belakang dan Ambisi Xi Jinping

Pengerahan ini dilihat sebagai manifestasi terbaru dari visi Presiden Xi Jinping untuk memodernisasi dan memperkuat PLA menjadi “kelas dunia” pada tahun 2050. Sejak menjabat, Xi telah memimpin reformasi militer yang masif, termasuk peluncuran kapal induk mutakhir seperti Fujian, yang mendukung ambisi Tiongkok untuk memproyeksikan kekuatan militer jauh melampaui Asia Timur.

Motivasi utama di balik unjuk kekuatan ini diyakini terbagi menjadi beberapa poin:

  • Tekanan terhadap Taiwan: Pengerahan kapal dan jet tempur dalam jumlah besar adalah sinyal tegas kepada Taipei dan para pendukungnya (terutama Amerika Serikat) bahwa Beijing serius dalam pandangannya bahwa Taiwan adalah bagian integral dari wilayahnya, dan siap mengambil tindakan militer jika diperlukan.
  • Penegasan Klaim Teritorial: Demonstrasi kekuatan ini memperkuat klaim Tiongkok atas pulau-pulau dan zona maritim yang disengketakan di Laut China Selatan dan Laut China Timur, khususnya terhadap negara-negara seperti Filipina, Vietnam, dan Jepang.
  • Uji Coba Kapabilitas Baru: Latihan berskala besar seperti ini memberikan kesempatan bagi PLA Navy (PLAN) untuk menguji koordinasi dan kemampuan operasional dari armada modern mereka.

Reaksi Regional: Kewaspadaan dan Kekhawatiran

Peningkatan dramatis aktivitas militer Tiongkok ini disambut dengan kewaspadaan yang tinggi oleh negara-negara di kawasan.

  • Taiwan mengonfirmasi bahwa mereka telah meningkatkan pemantauan di Selat Taiwan dan perairan sekitarnya.
  • Pemerintah Jepang menyatakan keprihatinan serius dan menilai bahwa Tiongkok sedang memperluas kemampuan operasi jarak jauhnya, yang berpotensi mengubah dinamika keamanan regional. Tokyo tetap waspada, meski aktivitas yang terdeteksi saat ini dinilai belum mencapai lonjakan tajam.
  • Amerika Serikat dan sekutunya kemungkinan akan merespons dengan meningkatkan patroli dan latihan bersama, menegaskan kembali prinsip kebebasan navigasi di perairan internasional.

Intensifikasi pengerahan kekuatan militer oleh Tiongkok di bawah Xi Jinping menunjukkan bahwa Beijing semakin agresif dalam mencapai tujuan geopolitiknya. Aksi unjuk kekuatan 100 kapal perang dan jet tempur ini tidak hanya meningkatkan risiko salah perhitungan di laut, tetapi juga memaksa kawasan Asia Timur untuk beradaptasi dengan realitas maritim yang semakin tegang dan bersenjata. Dunia saat ini tengah menanti langkah diplomatik dan militer yang akan diambil Tiongkok selanjutnya, serta respons terkoordinasi dari komunitas internasional.