Sudan Kacau Warga Bayar Angkot Pakai Sabun dan Gula

Sudan Kacau Warga Bayar Angkot Pakai Sabun dan Gula

ANGIN BERITA – Dua tahun setelah Perang Saudara meletus di Sudan konflik brutal antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) kondisi kehidupan warga sipil telah mencapai titik kekacauan ekonomi yang ekstrem. Dengan runtuhnya sistem perbankan dan kolapsnya nilai mata uang lokal, warga Sudan kini terpaksa kembali ke sistem ekonomi pra-modern, menggunakan barang-barang pokok sebagai alat tukar. Fenomena paling mencolok adalah di sektor transportasi: untuk naik angkutan umum atau membeli kebutuhan dasar, warga kini harus membayar menggunakan sabun, gula, atau solar, karena uang tunai praktis tidak memiliki nilai.

Laporan terbaru dari Khartum dan wilayah konflik lainnya menunjukkan betapa parahnya disintegrasi ekonomi negara tersebut. Bank-bank tutup, ATM lumpuh, dan uang kertas yang dibawa warga hanya berfungsi sebagai potongan kertas. Bagi jutaan orang yang terjebak di zona perang, termasuk lebih dari 12 juta orang yang mengungsi, kebutuhan dasar seperti makanan, obat-obatan, dan transportasi menjadi tantangan bertahan hidup yang semakin sulit.

Sabun dan Gula Menggantikan Pound Sudan

Dalam situasi di mana inflasi tidak lagi terukur dan mata uang resmi Sudan (Pound Sudan) telah kehilangan daya belinya, komoditas menjadi raja. Barang-barang yang memiliki nilai intrinsik dan sangat dibutuhkan terutama yang terkait dengan kebersihan, energi, dan pangan secara otomatis menjadi mata uang yang diterima secara luas dalam transaksi sehari-hari.

  • Transportasi: Sopir angkutan umum di berbagai kota yang masih beroperasi menolak menerima uang tunai. Ongkos perjalanan kini sering dibayar dengan sepotong sabun, sekantong gula, atau beberapa liter solar. Sabun, yang esensial untuk kebersihan dan pencegahan penyakit di tengah krisis kemanusiaan, dianggap memiliki nilai tukar yang stabil.
  • Kebutuhan Pokok: Pedagang di pasar yang tersisa juga mengadopsi sistem barter. Seorang warga di Omdurman dilaporkan menukar peralatan rumah tangga seperti kursi atau cangkul dengan tiga karung sorgum (sejenis serealia). Jagung, tepung, dan beras juga berfungsi sebagai alat tukar yang lebih berharga daripada mata uang resmi.
  • Jasa Perbaikan: Bahkan bengkel dan jasa perbaikan vital lainnya menerima pembayaran dalam bentuk barang. Ketergantungan pada sistem barter ini telah berlangsung lama, dengan banyak warga sipil menyatakan bahwa mereka tidak pernah memegang uang kertas selama lebih dari sembilan bulan.

Krisis Kemanusiaan Terburuk yang Terabaikan

Kekacauan ekonomi ini hanyalah salah satu wajah dari krisis kemanusiaan yang lebih besar. Perang saudara yang dipicu perseteruan dua jenderal, Jenderal Abdel Fattah al-Burhan (Panglima SAF) dan Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo alias “Hemedti” (Komandan RSF), sejak April 2023 telah merenggut nyawa ratusan ribu orang dan memicu krisis pengungsian terburuk di dunia.

Organisasi-organisasi kemanusiaan internasional berulang kali melaporkan kesulitan yang luar biasa dalam menyalurkan bantuan. Pasukan yang bertikai, terutama RSF, dituduh menghalangi jalur kemanusiaan, membuat jutaan orang terperangkap tanpa makanan, obat-obatan, atau air bersih. Di beberapa wilayah, laporan genosida, pembunuhan massal, dan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak-anak terus bermunculan, terutama di wilayah Darfur dan Khartum.

Dengan kegagalan upaya perundingan damai dan meningkatnya dukungan militer dari negara-negara asing kepada kedua belah pihak, konflik Sudan diperkirakan akan berlarut-larut. Situasi ini bukan hanya mengancam stabilitas Sudan, tetapi juga seluruh kawasan Afrika Timur. Di tengah bayang-bayang kelaparan dan penyakit yang merajalela, ketahanan warga Sudan yang kini berjuang dengan sabun sebagai mata uang, menjadi simbol perjuangan ekstrem melawan kemanusiaan yang terabaikan.