ANGIN BERITA – Bencana ekologis berupa banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, khususnya di Provinsi Aceh, telah menciptakan situasi darurat yang memprihatinkan. Kabupaten Aceh Tengah menjadi salah satu daerah yang paling terdampak, dengan seluruh akses jalur darat menuju dan antar-kecamatan dilaporkan lumpuh total. Hingga hari ini, satu-satunya cara untuk menjangkau wilayah tersebut, terutama untuk mendistribusikan bantuan, adalah melalui jalur udara.
Pernyataan ini diperkuat oleh Bupati Aceh Tengah, Haili, yang menyampaikan bahwa kondisi di lapangan sangat kritis.
“Enggak ada lagi, memang harus udara. Kalau jalan darat kita, oh ini kan longsor. Longsor, jembatan terputus. Satu-satunya jalan yang tepat adalah cuma udara,” ujar Haili dalam wawancara pada Rabu (4/12).
Infrastruktur Rusak Parah dan Keterbatasan Logistik
Kerusakan infrastruktur akibat bencana ini sangat masif. Berbagai titik jalan tertutup longsor, sementara beberapa jembatan vital terputus, termasuk Jembatan Beutong Ateuh Banggalang di jalan lintas tengah Nagan Raya-Aceh Tengah. Selain itu, jalur utama seperti ruas Bireuen–Takengon dan rute Takengon–Isaq–Gayo Lues juga tidak dapat dilewati. Dampaknya, mobilitas dan komunikasi terputus, membuat 13 dari 14 kecamatan di Aceh Tengah terisolasi.
Kondisi ini menimbulkan kesulitan besar dalam penyaluran bantuan kemanusiaan. Haili mengungkapkan bahwa meskipun pemerintah pusat dan provinsi telah menyiagakan helikopter untuk mengirimkan bantuan ke desa-desa terisolir, upaya tersebut sangat terbatas.
“Nah, kalau bantuan dari lewat udara kan sangat terbatas. Sementara kebutuhan di daerah kita ini kan cukup banyak,” tambahnya.
Meskipun demikian, Bupati mengaku bersyukur atas dukungan yang ada, termasuk penyediaan helikopter yang sedikit banyak membantu mengatasi keterbatasan akses. Pasalnya, tim di lapangan bahkan belum bisa mencapai beberapa desa terpencil karena jalur yang sulit ditembus.
“Kami tidak dapat akses lagi, baik jalan darat maupun jalur lainnya. Semua tertutup akibat longsor. Bahkan beberapa jembatan sudah putus,” Haili Yoga, Bupati Aceh Tengah.
Kendala Alat Berat dan Bahan Bakar
Upaya untuk memulihkan akses jalan darat sejatinya dapat dilakukan menggunakan alat berat. Namun, pemerintah daerah kini dihadapkan pada masalah logistik baru, yaitu keterbatasan ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM).
“Tapi ini harus kita lakukan melalui, melaksanakan dengan alat berat. Nah, alat berat juga ada, tapi BBM juga enggak ada lagi hari ini. Enggak ada lagi,” jelas Haili.
Kondisi serupa juga dilaporkan di sejumlah wilayah terdampak lain, di mana pembersihan jalan dan perbaikan sementara terhambat oleh minimnya pasokan BBM, terutama solar.
Sementara tim dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bersama Pemerintah Provinsi Aceh terus berupaya keras membuka blokade jalan, salah satunya di ruas Simpang KKA ke Takengon. Prioritas juga diberikan pada pembangunan jembatan semi rangka baja untuk memulihkan konektivitas.
Distribusi Bantuan dan Komunikasi Darurat
Selain masalah akses fisik, terputusnya sambungan komunikasi juga menjadi tantangan besar pada hari-hari awal bencana. Banyak wilayah yang jaringan seluler dan internetnya terputus total. Beruntung, saat ini telah dilakukan pemasangan perangkat Starlink di beberapa titik, termasuk di Aceh Tengah dan Gayo Lues, untuk memulihkan komunikasi darurat dan koordinasi penanganan bencana.
Di tengah situasi serba sulit ini, bantuan logistik dan tim medis sangat dibutuhkan. Laporan terbaru menyebutkan bahwa pengungsi mulai terserang berbagai penyakit, dan kebutuhan akan tenaga medis yang memadai menjadi sangat mendesak. Dengan jalur darat yang lumpuh total, distribusi kebutuhan pokok dan medis ini semakin bergantung pada ketepatan dan ketersediaan jalur udara.
Pemerintah Provinsi Aceh telah menetapkan status tanggap darurat banjir dan longsor sejak akhir November lalu, menunjukkan betapa parahnya situasi bencana ekologis yang kini telah memutus akses ke jantung provinsi tersebut. Kecepatan pemulihan akses darat menjadi kunci utama untuk keluar dari krisis kemanusiaan ini, sembari memastikan bantuan melalui udara dapat menjangkau seluruh warga yang terisolasi.

