ANGIN BERITA – Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah mempercepat penyaluran bantuan logistik dan kebutuhan darurat bagi puluhan ribu warga yang terdampak parah akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah wilayah di Aceh, terutama di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Percepatan ini dilakukan secara masif melalui jalur udara dengan menjadikan Bandara Rembele sebagai titik vital pendaratan dan pusat distribusi. Keputusan ini diambil menyusul terputusnya total akses darat ke wilayah-wilayah yang paling terisolasi.
Banjir dan longsor yang melanda Aceh dalam beberapa hari terakhir telah menyebabkan kerugian besar, termasuk terputusnya 30 titik jembatan dan 15 ruas jalan, serta puluhan titik longsor yang menjadikan Bener Meriah dan Aceh Tengah nyaris sepenuhnya terisolasi dari jalur logistik utama. Berdasarkan data terkini, jumlah pengungsi dan warga yang terisolir di Bener Meriah saja telah mencapai lebih dari 30.000 jiwa. Situasi darurat ini memerlukan respons cepat, khususnya dalam pengiriman bahan pokok, obat-obatan, dan alat komunikasi.
Konsolidasi dan Pengawalan Distribusi
Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan (Dirjen Bina Adwil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Safrizal ZA, turun langsung ke Bandara Rembele untuk mengawal proses kedatangan dan pendistribusian bantuan dari pemerintah pusat. Kehadirannya menegaskan keseriusan pemerintah dalam memastikan bantuan logistik tersalurkan dengan cepat, tepat, dan menjangkau wilayah yang paling membutuhkan.
Dalam pertemuan konsolidasi bersama Gubernur Aceh dan Bupati Bener Meriah di Bandara Rembele, Safrizal menyampaikan bahwa penanganan bencana di Aceh adalah kerja bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI–Polri, dan seluruh elemen masyarakat. Ia menekankan bahwa jalur udara, dalam hal ini Bandara Rembele, menjadi satu-satunya solusi cepat saat ini untuk menembus keterisolasian wilayah Gayo tersebut.
“Karena Kabupaten Aceh Tengah tidak memiliki bandara yang memadai, sehingga melalui jalur via Bandara Rembele adalah pilihan strategis,” ujarnya.
Bantuan Logistik dan Perangkat Komunikasi
Bantuan yang telah tiba di Bandara Rembele meliputi berbagai kebutuhan vital. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengirimkan logistik tanggap darurat berupa puluhan karton Indomie, makanan siap saji Eprokal, beras, serta obat-obatan.
Selain logistik sandang dan pangan, pemerintah pusat juga memprioritaskan pemulihan akses komunikasi. Kemendagri diketahui turut memberikan bantuan berupa perangkat internet portabel seperti Starlink dan genset. Bantuan ini sangat krusial mengingat putusnya jaringan komunikasi reguler di wilayah terdampak. Alat komunikasi portabel ini diharapkan dapat segera dioperasikan untuk menembus ketiadaan sinyal dan memungkinkan para pengungsi di daerah terisolir untuk segera terhubung kembali dengan keluarga mereka, serta memfasilitasi koordinasi antar instansi penanggulangan bencana.
Pemda dan TNI-Polri Bergerak Cepat
Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf, atau yang akrab disapa Mualem, turut mengerahkan upaya maksimal dengan menggunakan helikopter TNI dari Bandara Malikussaleh untuk meninjau lokasi bencana dan mengangkut bantuan logistik ke daerah yang terisolasi, termasuk Bener Meriah dan Aceh Timur. Beliau juga memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) sebanyak tiga ton untuk alat berat yang sedang berjuang membuka akses jalan darat yang masih tertutup longsor.
Mualem telah melaporkan perkembangan kondisi di Aceh kepada Presiden melalui Menteri Sekretaris Negara dan berharap dukungan dari pusat terus mengalir. Koordinasi solid antara Pemerintah Provinsi, BPBD, TNI, dan Polri terus dilakukan untuk memastikan pengiriman logistik dari Rembele dapat diteruskan ke titik-titik pengungsian di pedalaman menggunakan kendaraan yang mampu melewati medan berat atau diterbangkan kembali jika diperlukan.
Meskipun distribusi bantuan kini telah dipercepat melalui Bandara Rembele, tantangan masih besar. Kebutuhan pokok, terutama beras, dilaporkan semakin langka di wilayah tengah Aceh. Kecepatan dan sinergi seluruh pihak menjadi penentu utama dalam mengurangi dampak bencana dan mempercepat pemulihan bagi warga terdampak.

