ANGIN BERITA – Intelijen Israel dilaporkan semakin khawatir dengan kemajuan pesat dan akurasi yang meningkat dari program rudal balistik Iran. Kekhawatiran ini telah memicu pergeseran fokus besar-besaran dalam strategi pertahanan dan penelitian militer Israel, mendesak negara tersebut untuk “memutar otak” dan menginvestasikan sumber daya yang signifikan dalam pengembangan teknologi penangkal rudal generasi baru.
Laporan dari lingkaran pertahanan Israel menyebutkan bahwa Republik Islam Iran kini tidak hanya memiliki rudal dalam jumlah besar, tetapi juga berhasil meningkatkan kemampuan panduan rudal jarak menengah dan jarak jauhnya secara drastis. Rudal-rudal seperti seri Shahab, Emad, dan yang terbaru, Fattah–hipersonik yang diklaim mampu bermanuver dan menembus sistem pertahanan–dipandang sebagai ancaman eksistensial yang memerlukan respons yang jauh lebih canggih daripada sistem pertahanan rudal yang ada saat ini, seperti Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow.
“Ancaman dari Timur (Iran) telah berubah dari sekadar kuantitas menjadi presisi tinggi,” ujar seorang sumber senior pertahanan Israel yang enggan disebutkan namanya. “Kita harus berasumsi bahwa setiap rudal yang ditembakkan kini memiliki peluang tinggi untuk mencapai target yang dituju, bahkan jika bergerak pada kecepatan hipersonik.”
Tembok Pertahanan Baru Diperlukan
Respons utama Israel terhadap tantangan ini berpusat pada dua bidang: peningkatan kemampuan deteksi dan pengembangan teknologi pencegat energi terarah (DEW) atau lebih dikenal sebagai senjata laser berenergi tinggi.
Saat ini, sistem pertahanan berlapis Israel sangat bergantung pada pencegat kinetik yang mahal yaitu menabrakkan rudal pencegat ke rudal musuh. Namun, biaya per tembakan yang tinggi, ditambah dengan potensi serangan rudal jenuh (simultan dalam jumlah besar) dari Iran dan proksi-proksinya (seperti Hizbullah di Lebanon), membuat model pertahanan saat ini menjadi kurang berkelanjutan.
Inovasi yang Mendorong Perubahan:
- Sistem Pencegat Laser (Iron Beam): Program yang paling banyak dibicarakan adalah pengembangan sistem Iron Beam, sebuah senjata laser yang dirancang untuk mencegat proyektil, termasuk roket, mortir, dan rudal di jarak dekat hingga menengah. Keuntungan utama teknologi ini adalah biaya operasional yang jauh lebih rendah (diperkirakan hanya beberapa dolar per tembakan) dan amunisi yang tidak terbatas selama daya listrik tersedia. Israel berambisi untuk meningkatkan daya tembak Iron Beam agar mampu menjatuhkan rudal balistik jarak jauh dalam waktu dekat.
- Sensor Satelit dan Kecerdasan Buatan (AI): Israel juga berinvestasi besar-besaran dalam jaringan satelit pengawasan baru dan sistem AI tingkat lanjut untuk melacak dan memprediksi lintasan rudal Iran dengan lebih cepat dan akurat. Sistem AI ini diharapkan dapat mengintegrasikan data dari berbagai sensor untuk memberikan waktu respons yang lebih panjang bagi sistem pencegat.
- Peningkatan Kemampuan Ofensif: Selain bertahan, Israel dilaporkan terus menyempurnakan rencana dan kemampuan ofensifnya, termasuk jet tempur siluman F-35I, untuk menyerang fasilitas rudal Iran secara preventif jika dianggap perlu.
Para analis militer mencatat bahwa perlombaan senjata rudal dan penangkal rudal antara Israel dan Iran kini berada pada titik kritis. Kemajuan rudal Iran yang cepat telah memaksa Israel untuk bertaruh pada teknologi yang dulunya dianggap fiksi ilmiah. Keberhasilan atau kegagalan program laser dan AI Israel ini akan sangat menentukan keseimbangan kekuatan militer di kawasan Timur Tengah dalam dekade mendatang.

