ANGIN BERITA – Bencana alam berupa banjir dan longsor yang melanda beberapa wilayah di Pulau Sumatera, khususnya di Provinsi Sumatera Utara, mendapat perhatian besar dari berbagai kalangan, termasuk kalangan tokoh agama. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Gus Yahya Cholil Staquf, melalui seruan yang disampaikan secara virtual, mengajak umat Islam di seluruh Indonesia untuk menggelar Shalat Ghaib dan doa bersama bagi para korban yang meninggal serta bagi mereka yang terdampak bencana.
“Bencana yang terjadi di Sumatera, khususnya di Sumatera Utara, adalah ujian besar bagi kita semua. Oleh karena itu, mari kita tunjukkan empati dan kepedulian kita melalui doa yang tulus, agar para korban yang meninggal dunia mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, dan bagi para korban yang masih bertahan, semoga diberikan ketabahan dan perlindungan,” kata Gus Yahya dalam seruan tersebut.
Banjir besar dan tanah longsor yang terjadi sejak beberapa hari lalu telah merendam ratusan rumah di sejumlah daerah, serta memutuskan akses transportasi yang menghubungkan berbagai kabupaten dan kota. Wilayah-wilayah yang terdampak parah antara lain Kabupaten Karo, Deli Serdang, dan Langkat. Curah hujan yang sangat tinggi dan kondisi geografis yang rawan longsor memperburuk keadaan, menyebabkan ribuan warga terpaksa mengungsi dan banyak rumah serta infrastruktur yang rusak berat.
Gus Yahya mengungkapkan rasa prihatin mendalam atas musibah yang menimpa warga Sumatera. Ia menyampaikan bahwa selain Shalat Ghaib dan doa bersama, masyarakat juga perlu bersatu dan membantu korban dengan segala kemampuan yang ada, baik berupa bantuan materiil maupun moral.
“Saat-saat seperti ini, sangat penting untuk kita saling bergotong royong. Jangan hanya mengandalkan pemerintah, tetapi masyarakat juga harus proaktif membantu sesama,” tambahnya.
Dalam seruan tersebut, Gus Yahya juga mengajak umat Islam untuk tidak hanya melaksanakan ibadah spiritual, tetapi juga berpartisipasi aktif dalam upaya penanggulangan bencana. Ia meminta agar setiap masjid, pesantren, dan majelis taklim di seluruh Indonesia menggelar doa bersama untuk korban bencana.
“Ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk menunjukkan nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian sosial yang diajarkan oleh Islam,” tuturnya.
Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, PBNU juga menggalang bantuan untuk para korban bencana. Melalui lembaga zakat NU, seperti LAZISNU, masyarakat dapat menyalurkan donasi untuk membantu memenuhi kebutuhan mendesak para pengungsi, seperti makanan, pakaian, obat-obatan, dan tempat penampungan sementara.
Di samping itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara terus melakukan upaya evakuasi korban dan pemulihan daerah terdampak. Hingga saat ini, lebih dari 10.000 warga dilaporkan terdampak langsung oleh bencana ini, dengan lebih dari 2.000 orang mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sementara itu, petugas gabungan dari TNI, Polri, dan relawan terus bergerak untuk membersihkan puing-puing longsor serta memperbaiki jalan yang tertutup lumpur dan pohon tumbang.
Gus Yahya menutup seruannya dengan harapan agar ujian yang datang dalam bentuk bencana ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap sesama dan menjaga lingkungan.
“Semoga musibah ini membawa berkah dan mempererat ukhuwah kita sebagai bangsa, serta membawa hikmah dalam hidup kita,” pungkasnya.
Seruan ini mendapat sambutan positif dari banyak pihak, termasuk dari masyarakat yang telah mulai menggelar doa bersama di masjid-masjid dan komunitas-komunitas di seluruh Indonesia.

