Jelang Hari HAM Sedunia, Waspada Provokasi Aksi Anarkis

Jelang Hari HAM Sedunia, Waspada Provokasi Aksi Anarkis

ANGIN BERITA – Menjelang peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Desember, berbagai pihak, baik pemerintah maupun organisasi masyarakat sipil, mengimbau agar masyarakat tetap waspada terhadap potensi provokasi yang dapat memicu aksi-aksi anarkis. Imbauan ini muncul setelah beberapa insiden kekerasan yang terjadi di beberapa daerah pada peringatan-peringatan HAM tahun-tahun sebelumnya, yang berpotensi merusak esensi dan makna dari perayaan tersebut.

Hari HAM Sedunia merupakan momen penting bagi seluruh dunia untuk mengevaluasi kemajuan serta tantangan dalam menghormati dan melindungi hak-hak dasar setiap individu. Di Indonesia, peringatan ini biasanya diwarnai dengan aksi-aksi damai, seminar, serta diskusi yang bertujuan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya HAM. Namun, beberapa tahun terakhir, peringatan ini juga kerap dimanfaatkan oleh segelintir kelompok untuk menyalurkan aspirasi dengan cara yang lebih radikal, bahkan anarkis.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam pernyataannya mengingatkan bahwa seluruh aparat kepolisian telah dipersiapkan untuk mengawal setiap kegiatan peringatan Hari HAM Sedunia agar tetap berjalan sesuai dengan ketertiban dan tanpa kekerasan.

“Kami akan memastikan bahwa setiap aksi yang dilakukan pada tanggal 10 Desember mendatang tetap berjalan dalam kerangka yang damai dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ujarnya.

Lebih lanjut, Jenderal Sigit juga menekankan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang mencoba untuk menggerakkan massa dengan tujuan menciptakan ketegangan atau kekerasan.

“Penting untuk tetap tenang dan tidak terjebak dalam aksi-aksi yang tidak sesuai dengan semangat peringatan hari tersebut. Aksi kekerasan hanya akan merusak tujuan mulia peringatan ini,” tegasnya.

Masyarakat pun diminta untuk lebih berhati-hati dalam menerima informasi yang beredar, terutama melalui media sosial, yang sering kali menjadi saluran utama untuk menyebarkan narasi-narasi provokatif. Penyebaran berita palsu atau hoaks yang bertujuan untuk memanipulasi opini publik bisa memperburuk situasi dan memperburuk ketegangan sosial.

Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Ahmad Taufan Damanik, juga menyampaikan seruan serupa. Menurutnya, peringatan Hari HAM Sedunia seharusnya digunakan untuk memperkuat komitmen terhadap perlindungan hak asasi manusia, bukan untuk memicu perpecahan.

“Kami berharap agar semua pihak menghargai proses demokrasi yang ada dan menyalurkan aspirasi dengan cara yang damai. Tindakan anarkis hanya akan merugikan dan memperburuk situasi,” ujar Taufan.

Selain itu, sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang konsen dengan isu HAM juga mengingatkan agar masyarakat dan pemerintah tidak lengah dalam menjaga suasana yang kondusif menjelang peringatan tersebut. Mereka menekankan bahwa pentingnya dialog terbuka untuk menyelesaikan berbagai isu sosial dan politik yang ada, tanpa perlu resorting pada kekerasan atau provokasi.

Pemerintah juga tengah mempersiapkan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memperingati Hari HAM Sedunia dengan berbagai bentuk kegiatan yang lebih inklusif dan edukatif. Selain itu, pihak keamanan akan semakin meningkatkan patroli di sejumlah titik rawan untuk mencegah terjadinya aksi yang bisa berujung pada kerusuhan.

Di sisi lain, masyarakat diharapkan dapat menunjukkan kesadaran lebih tinggi akan pentingnya saling menghormati hak asasi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Perayaan ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga refleksi mendalam mengenai perlunya perlindungan hak setiap individu, terutama dalam menjaga perdamaian dan keadilan sosial.