Banjir Aceh Korban Mulai Anarkis akibat Logistik Menipis

Banjir Aceh: Korban Mulai Anarkis akibat Logistik Menipis

ANGIN BERITA – Bencana banjir dan longsor di Aceh terutama di kawasan Bireuen dan sekitarnya telah memicu krisis kemanusiaan serius. Persediaan logistik dilaporkan makin menipis, dan dalam situasi darurat tersebut, banyak korban mulai menunjukkan perilaku yang digambarkan sebagai “anarkis”. Situasi ini disampaikan langsung oleh Kepala Basarnas Banda Aceh, Al Husain.

Menurut Basarnas, tim penyelamat telah dikerahkan sejak awal bencana untuk evakuasi di beberapa wilayah terdampak, termasuk di kawasan Bireuen dan Pidie Jaya. Namun, akses menuju banyak lokasi terputus jalan rusak, tanah longsor, serta putusnya jaringan komunikasi dan listrik membuat distribusi bantuan dan logistik sangat terhambat.

Situasi makin diperparah karena banyak daerah yang kini terisolasi total; warga yang terjebak di rumah atau di lokasi pengungsian mengatakan bahwa makanan, air bersih, dan kebutuhan dasar lainnya sudah sangat langka. Basarnas memperingatkan bahwa tanpa bantuan cepat dan signifikan dalam bentuk makanan, air, dan evakuasi situasi bisa semakin memburuk.

Akses Terputus & Evakuasi Tertunda

Evakuasi korban terus dilakukan oleh tim Basarnas bersama instansi terkait, namun sejumlah kendala membuat upaya tersebut jauh dari ideal. Banyak jalan tertutup oleh lumpur, batu, dan pohon tumbang membuat kendaraan tidak bisa lewat. Di beberapa titik, listrik dan komunikasi mati, sehingga koordinasi penyelamatan dan distribusi bantuan sangat sulit.

Bahkan untuk sekadar memberi tahu kondisi warga di lokasi terdampak pun sulit Basarnas harus memanfaatkan solusi alternatif agar bisa tetap melakukan komunikasi dan memetakan situasi.

Salah satu pejabat pemerintah Aceh menyebut bahwa masih ada warga yang terjebak, hilang, atau menunggu evakuasi, serta banyak wilayah yang belum tersentuh bantuan. Pemerintah daerah pun sudah menggelar rapat darurat untuk mengkoordinasikan upaya penyelamatan, data korban, dan distribusi logistik darurat.

Krisis Logistik dan Kepanikan Warga

Saat stok makanan, air bersih, dan kebutuhan pokok lain menipis dan dalam kondisi terisolasi tensi di antara warga mulai meningkat. Beberapa pihak di lapangan menyebut bahwa warga yang belum mendapat bantuan mulai panik dan cemas. Dalam kondisi seperti ini, rasa frustasi dan ketidakpastian bisa memancing tindakan nekat.

“Sekarang yang paling dibutuhkan adalah evakuasi dan makanan untuk korban,” ungkap Basarnas.

Warga yang rumahnya tenggelam, tanpa akses jalan, listrik, dan komunikasi, berada pada posisi sangat rentan terutama jika bantuan tak kunjung datang.

Sumber lain melaporkan bahwa di sejumlah desa, ada keluarga yang belum mendapat suplai makanan atau air selama beberapa hari. Ada juga pengungsian massal di tempat-tempat darurat seperti masjid atau balai desa, di mana kondisi sangat memprihatinkan.

Respons Pemerintah dan Upaya Darurat

Menanggapi situasi tersebut, pemerintah provinsi bersama lembaga penanggulangan bencana dan tim SAR telah memutuskan untuk menggunakan jalur alternatif termasuk pengiriman bantuan lewat jalur laut dan udara untuk menjangkau daerah-daerah yang akses jalannya rusak atau terputus.

BNPB dan instansi daerah terus berkoordinasi untuk mempercepat distribusi bantuan: makanan, air bersih, obat-obatan, serta logistik dasar lainnya. Basarnas dan tim penyelamat juga diinstruksikan untuk memprioritaskan evakuasi terhadap warga yang terisolasi, terutama keluarga dengan anak-anak, lansia, atau yang sakit.

Namun petugas mengingatkan bahwa kondisi cuaca dan medan berat masih menghambat akses, dan banyak wilayah yang belum dapat dijangkau. Karena itu, mereka menyampaikan imbauan mendesak agar bantuan segera dikirim dan jalur akses dibuka secepatnya.

Anarkisme, Kelaparan, dan Isolasi

Kekhawatiran terbesar sekarang adalah potensi meluasnya krisis kemanusiaan: kelaparan, penyakit, kecemasan psikologis serta perselisihan atau konflik lokal akibat tekanan ekstrem. Situasi “anarkis” yang disebut Basarnas bisa menjadi tanda awal bahwa kondisi sosial di daerah terdampak bisa makin memburuk.

Jika bantuan dan evakuasi tidak datang dalam waktu dekat, dikhawatirkan banyak warga akan kehilangan harapan terutama mereka yang telah tinggal berhari‑hari dalam kondisi tanpa makanan, air, maupun informasi.

Dengan demikian, upaya penyelamatan dan distribusi bantuan menjadi sangat mendesak. Segera membuka akses, mempercepat pengiriman logistik, dan memastikan komunikasi kembali pulih adalah prioritas utama agar krisis ini tidak berkembang menjadi tragedi kemanusiaan lebih besar.