ANGIN BERITA – Amerika Serikat Presiden Donald J. Trump dilaporkan memberi saran kepada Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, untuk menghindari provokasi terhadap China terkait isu kedaulatan pulau Taiwan. Saran ini disampaikan melalui telepon, di tengah ketegangan diplomatik yang meningkat antara Tokyo dan Beijing.
Menurut laporan oleh media internasional, panggilan tersebut terjadi tak lama setelah pemimpin China, Xi Jinping, berbicara dengan Trump dalam percakapan itu Xi menekankan bahwa Taiwan adalah “bagian inheren dari tatanan pasca‑perang” China.
Dalam panggilan dengan Takaichi beberapa hari kemudian, Trump disebut menyarankan agar Jepang “menurunkan volume” debat soal Taiwan yakni agar tidak memprovokasi Beijing lebih jauh. Namun, perlu digarisbawahi bahwa menurut sumber yang sama, saran Trump sifatnya halus; ia tidak mendesak Takaichi untuk menarik atau merevisi pernyataannya.
Alasan di balik pendekatan Trump ini sebagaimana dikutip adalah keinginan untuk menjaga perdamaian dalam sikap antara AS, China, dan Jepang, serta untuk memastikan bahwa tensi atas Taiwan tidak menggagalkan gencatan perang dagang dan kesepakatan perdagangan antara AS dan China.
Reaksi Jepang dan Penolakan Resmi
Meski laporan dari media termasuk The Wall Street Journal menyebut bahwa Trump memberi “nasihat” demikian, pemerintah Jepang dengan tegas membantahnya. Juru bicara kabinet Jepang, Minoru Kihara, menyatakan bahwa tidak ada fakta bahwa Trump meminta Takaichi untuk menahan diri terkait provokasi terhadap China.
Pernyataan Takaichi setelah panggilan sendiri lebih bersifat diplomatis: ia mengatakan bahwa diskusi mereka menyentuh hubungan bilateral dan kondisi regional, tanpa menyebut detail terkait Taiwan atau peringatan dari Trump.
Dampak pada Hubungan Regional: Jepang, China, AS
Pernyataan Takaichi di parlemen awal November bahwa Jepang bisa merespon militer jika China menyerang Taiwan telah memicu kemarahan Beijing termasuk tuntutan agar Jepang menarik ucapannya, dan ancaman sanksi diplomatik maupun ekonomi.
Dalam konteks itu, saran Trump jika benar terjadi menunjukkan betapa rapuh situasi geopolitik di kawasan. AS tampaknya berupaya menyeimbangkan tiga kepentingan: mempertahankan aliansi dengan Jepang, menjaga stabilitas dengan China, serta melindungi kepentingan ekonomi dan perdagangan.
Namun, penolakan Jepang terhadap laporan itu bisa memunculkan keraguan: apakah Trump benar‑benar menyampaikan saran tersebut, atau ini bagian dari strategi diplomasi publik untuk meredam ketegangan? Ketidakjelasan ini pada gilirannya memperdalam ketidakpastian atas arah kebijakan Jepang di krisis Taiwan.
Isu Sensitif, Taktik Diplomasi, dan Masa Depan Hubungan
Kasus ini menyoroti kompleksitas hubungan antara negara besar di Asia Timur: klaim China atas Taiwan, keinginan Jepang untuk menjaga keamanan regional, dan kepentingan AS dalam menyeimbangkan hubungan semuanya saling silang.
Jika memang Trump memberi saran agar Jepang tidak memprovokasi China, hal itu bisa dianggap sebagai upaya AS menjaga stabilitas kawasan dan melindungi kepentingan dagang. Namun bantahan resmi Jepang menunjukkan bahwa tindakan diplomasi semacam itu sangat sensitif dan bisa menciptakan keretakan internal aliansi.
Selanjutnya, publik internasional akan mencermati apakah Jepang akan mempertahankan sikap kerasnya terhadap Taiwan, atau memilih taktik diplomasi lebih hati‑hati. Bagaimanapun, keputusan Tokyo bisa punya implikasi besar baik untuk hubungan dengan Beijing maupun untuk perimbangan kekuatan di Indo‑Pasifik.

