Kurir Ratusan Ribu Ekstasi Isap Sabu Sebelum Kecelakaan di Tol Lampung

Kurir Ratusan Ribu Ekstasi Isap Sabu Sebelum Kecelakaan di Tol Lampung

ANGIN BERITA – Kasus kecelakaan tunggal di Jalan Tol Trans Sumatera, Lampung (Km 136B), yang melibatkan seorang kurir narkoba tengah menjadi sorotan publik setelah polisi mengungkap sejumlah fakta mengejutkan. Dari penyelidikan Bareskrim Polri, diketahui bahwa kurir bernama Muhammad Raffi (42) sempat mengonsumsi sabu sebelum melakukan perjalanan yang berujung kecelakaan dan kemudian penangkapan.

Kecelakaan terjadi pada Kamis, 20 November 2025, sekitar pukul 05.40 WIB. Mobil Nissan X‑Trail bernomor polisi D‑1160‑UN yang dikemudikan Raffi mengalami kecelakaan saat melaju di Tol Bakauheni–Terbanggi Besar, Lampung. Berdasarkan keterangan polisi, Raffi diduga mengalami micro sleep, kondisi di mana seseorang tertidur sesaat secara tak sadar, yang kemudian memicu kecelakaan.

Setelah tabrakan, Raffi sempat terdesak di dalam kendaraan yang ringsek. Dalam kondisi panik, dia mencoba keluar melalui atap mobil. Di tempat kejadian, petugas menemukan enam tas yang ternyata berisi ekstasi total 207.529 butir ekstasi berhasil diamankan oleh Bareskrim Polri.

Pengakuan Konsumsi Sabu Sebelum Keberangkatan

Dalam konferensi pers, Kombes Pol Sunario, Wadirtipid Narkoba Bareskrim Polri, menyatakan bahwa Raffi sempat menggunakan sabu sebelum memulai perjalanan dari Palembang menuju Jakarta. Menurut Sunario, penggunaan sabu tersebut sangat mungkin menjadi salah satu penyebab kecelakaan, karena Raffi dilaporkan sedang keletihan saat kejadian.

Lebih detail, polisi menyebut bahwa Raffi mengonsumsi sabu setelah mengantar istrinya ke hotel. Konsumsi narkoba jenis stimulan ini diyakini berkontribusi pada penurunan kewaspadaan, terutama karena kecelakaan terjadi dini hari, ketika tubuh biasanya sangat rentan terhadap kantuk.

Pelarian dan Penangkapan

Setelah kecelakaan, Raffi tak langsung ditangkap. Dalam kepanikan, dia membuang tas-tas berisi ekstasi ke jurang dekat lokasi kejadian, untuk menghilangkan jejak. Kemudian, dia melarikan diri menuruni tebing, lalu menuju perkampungan terdekat sebelum akhirnya naik kendaraan umum.

Polisi pun melakukan pengejaran intensif. Pada hari Minggu, 23 November 2025, tim gabungan dari Subdit IV Ditipidnarkoba Bareskrim Polri berhasil menangkap Raffi di Jalan Raya Sangereng, Ranca Buaya, Kabupaten Tangerang.

Skala Kasus: Ekstasi Senilai Rp 207 Miliar

Nilai barang bukti yang disita sangat besar. Berdasarkan pengumuman Bareskrim, ekstasi sebanyak 207.529 butir itu diperkirakan setara Rp 207,5 miliar. Wakil Direktur Tipid Narkoba Bareskrim mengungkapkan bahwa upah Raffi sebagai kurir pada pengiriman ini mencapai Rp 100 juta.

Lebih jauh, menurut versi penyidik, ini bukan kali pertama Raffi menjalankan misi kurir narkoba. Dia pernah terlibat pengiriman sebelumnya, sekitar tiga bulan lalu, dengan modus dan jaringan yang diyakini sama.

Kontroversi Tambahan: Atribut Polisi di Mobil

Ada aspek lain yang menarik perhatian publik: Raffi mengklaim bahwa mobil yang digunakan untuk mengangkut ekstasi memiliki atribut polisi. Dalam pernyataannya, dia menyatakan bahwa atribut tersebut sudah ada saat dia membeli kendaraan tersebut klaim yang masih diselidiki lebih lanjut oleh pihak berwenang.

Implikasi Penegakan Hukum

Kasus ini menjadi bukti betapa seriusnya peredaran narkoba kelas besar di dalam negeri, dan bagaimana kurir bisa menggunakan mobil pribadi untuk mengangkut puluhan juta butir ekstasi. Penangkapan Raffi tidak hanya menyelamatkan generasi muda dari potensi penyalahgunaan, tetapi juga membuka benang serius soal jaringan narkoba lintas provinsi.

Brigjen Eko Hadi Santoso, Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim, menyatakan bahwa masih ada pendalaman untuk mengungkap bandar besar di atas Raffi. Selain itu, mereka juga memburu sosok berinisial U, yang diduga sebagai otak pengiriman ekstasi dalam kasus ini.

Risiko dan Pembelajaran

Pengungkapan bahwa kurir menyalahgunakan sabu sebelum berkendara menyoroti risiko tinggi dalam operasi kurir narkoba. Konsumsi zat stimulan seperti sabu dapat mengaburkan penilaian dan memperbesar faktor kecelakaan, terutama jika dikombinasikan dengan kelelahan dan kurang tidur.

Pihak kepolisian harus terus mengasah teknik intelijen untuk menembus jaringan narkoba besar, sementara pengendalian internal jalan tol dan patroli lalu lintas dini hari bisa diperkuat untuk mengantisipasi potensi kecelakaan berisiko tinggi seperti ini.