ANGIN BERITA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menegaskan komitmennya untuk menjadikan kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, sebagai jantung destinasi wisata budaya dan sejarah di Ibu Kota. Upaya terbaru dan paling masif diwujudkan melalui perayaan Hari Angklung Sedunia yang digelar secara kolosal dan meriah, menarik ribuan pengunjung lokal maupun mancanegara.
Perayaan Hari Angklung, yang jatuh setiap tanggal 16 November, tahun ini dijadikan momentum strategis oleh Pemprov DKI. Acara puncak dipusatkan di jantung Kota Tua, yakni di area Fatahillah Square, yang diubah menjadi panggung raksasa bagi pertunjukan musik bambu tradisional asal Jawa Barat yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity).
Kolaborasi Budaya dan Sejarah
Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, dalam sambutannya, menyatakan bahwa pemilihan Kota Tua sebagai lokasi utama bukan tanpa alasan. Kawasan yang kaya akan bangunan peninggalan era kolonial Belanda ini dianggap memiliki perpaduan unik antara nilai sejarah, arsitektur, dan atmosfer budaya yang sangat mendukung pagelaran berskala internasional.
“Kota Tua adalah etalase sejarah kita. Dengan menggelar Hari Angklung di sini, kami ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Angklung sebagai warisan budaya Indonesia dapat berpadu harmonis dengan peninggalan sejarah kota, menciptakan pengalaman wisata yang imersif dan tak terlupakan,” ujarnya.
Ribuan partisipan, mulai dari siswa sekolah, komunitas seni, hingga masyarakat umum, memadati lapangan Fatahillah. Mereka serentak membawakan lagu-lagu tradisional dan modern menggunakan angklung, menghasilkan simfoni bambu yang menggema di antara gedung-gedung tua. Aksi ini secara efektif mengubah Kota Tua dari sekadar lokasi bersejarah menjadi pusat aktivitas budaya dinamis.
Peningkatan Kunjungan dan Ekonomi Lokal
Dampak dari acara kolosal ini langsung terasa. Data dari pengelola kawasan menunjukkan adanya peningkatan kunjungan hingga 40% selama periode perayaan berlangsung dibandingkan akhir pekan biasa. Para pedagang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berjualan di sekitar Kota Tua pun merasakan lonjakan pendapatan.
“Angklung tidak hanya warisan budaya, tetapi juga mesin penggerak ekonomi kreatif. Kami melihat banyak wisatawan asing yang terkesan dan tertarik membeli angklung mini sebagai suvenir,” kata salah satu perwakilan Dewan Kota Tua. “Ini adalah multiplier effect yang luar biasa. Wisatawan datang karena Angklung, tapi mereka tinggal dan berbelanja karena terpesona oleh Kota Tua.”
Untuk memperkuat citra ini, Pemprov DKI Jakarta juga mengintegrasikan perayaan ini dengan sejumlah fasilitas baru yang telah disiapkan di Kota Tua, termasuk penyediaan pusat informasi turis yang lebih modern, penambahan spot-spot foto tematik, serta peningkatan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.
Rencana Jangka Panjang: Kota Tua Sebagai Hub Budaya
Lebih dari sekadar perayaan satu hari, langkah ini merupakan bagian dari visi jangka panjang Pemprov DKI Jakarta untuk merevitalisasi dan memposisikan Kota Tua sebagai hub budaya utama di Asia Tenggara. Rencananya, Angklung dan kesenian tradisional lainnya akan menjadi agenda rutin mingguan di Fatahillah Square.
Visi ini mencakup empat pilar utama:
- Konservasi: Menjaga keaslian bangunan bersejarah.
- Aksesibilitas: Memperbaiki sistem transportasi terintegrasi (TransJakarta, KRL, MRT) menuju kawasan.
- Aktivitas Budaya: Mengisi ruang publik dengan kegiatan seni dan budaya yang berkesinambungan.
- Literasi Sejarah: Menyediakan edukasi mendalam bagi pengunjung mengenai sejarah Jakarta.
Dengan mengusung Hari Angklung sebagai highlight utama, DKI Jakarta mengirimkan pesan kuat bahwa Kota Tua tidak hanya menjual nostalgia, tetapi juga menjadi tempat bertemunya tradisi masa lalu dan semangat kreatif masa kini. Ke depan, diharapkan Kota Tua akan menjadi destinasi wajib bagi wisatawan yang mencari kombinasi unik antara peninggalan sejarah kolonial dan kekayaan budaya lokal Indonesia.
Kegiatan ini membuktikan bahwa dengan pendekatan yang tepat, warisan budaya seperti Angklung dapat menjadi jembatan efektif untuk mempromosikan destinasi wisata bersejarah.

