ANGIN BERITA – Rabu (19/11) pagi tadi, umat Hindu di berbagai daerah, terutama di Bali, kembali berkumpul di pura-pura untuk melaksanakan persembahyangan dalam rangka merayakan Hari Raya Galungan. Perayaan ini merupakan puncak dari rangkaian Hari Suci Galungan yang dirayakan setiap 210 hari menurut kalender Saka Bali.
Makna Spiritual yang Mendalam
Galungan secara filosofi melambangkan kemenangan dharma (kebenaran) atas adharma (kejahatan). Dalam tradisi Hindu Bali, umat percaya bahwa pada hari Galungan, para leluhur turun ke bumi untuk memberikan berkat dan perlindungan.
Pada momen ini, umat Hindu tidak hanya merayakan kemenangan secara simbolis, tetapi juga merenungkan nilai-nilai batin seperti pengendalian diri, kebersihan pikiran, dan penguatan spiritual.
Rangkaian Perayaan yang Khusus
Rangkaian Galungan dimulai sejak beberapa hari sebelum puncak perayaan. Menurut jadwal yang dirilis oleh Ditjen Bimas Hindu, tahun ini Penampahan Galungan jatuh pada 18 November 2025, sehari sebelum hari raya utama.
Puncak perayaan Galungan sendiri berlangsung pada hari Rabu, 19 November 2025. Setelah itu, umat Hindu juga merayakan Umanis Galungan pada hari berikutnya, yakni Kamis, sebagai momen silaturahmi dan berkumpul bersama keluarga.
Persembahyangan di Pura dan Rumah Keluarga
Pada puncak Hari Raya Galungan, umat Hindu melakukan sembahyang di pura-pura seperti Pura Merajan (tempat pemujaan keluarga), Pura Desa, dan pura publik lainnya. Persembahyangan dilakukan dengan khidmat, membawa sesajen dan ungkapan syukur atas berkah yang telah diberikan.
Setelah sembahyang, sebagian umat juga melaksanakan kunjungan ke rumah kerabat dan keluarga. Tradisi ini mempererat ikatan sosial antar anggota komunitas, sekaligus menjadi saat untuk menyampaikan rasa hormat kepada leluhur.
Simbol Penjor sebagai Lambang Kemenangan
Salah satu ciri khas Galungan yang paling mudah dikenali adalah penjor tiang bambu melengkung yang dihias dengan daun janur, hasil bumi seperti pisang dan padi, serta kain kuning atau putih. Penjor dipasang di tepi jalan dan depan rumah sebagai simbol kemenangan, kemakmuran, dan pengabdian kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Tantangan di Era Digital
Meskipun perayaan berjalan khidmat, para pemangku agama menyoroti tantangan baru di era digital. Menurut penyuluh agama Hindu di Kabupaten Buleleng, Luh Irma Susanthi, perkembangan budaya digital dapat membawa ancaman adharma dalam bentuk kecanduan gadget, tekanan media sosial, hingga ritual keagamaan yang lebih dipengaruhi estetika demi tampilan di media sosial.
Dia menekankan bahwa Galungan harus menjadi momentum refleksi batin: bukan hanya ritual seremonial, tetapi juga panggilan untuk memperkuat nilai-nilai spiritual dan moral dalam kehidupan sehari-hari.
Pengamanan dan Kondusivitas Perayaan
Kepolisian Daerah Bali (Polda Bali) bersama pecalang (pengamanan adat) dikerahkan secara intensif untuk menjaga keamanan selama perayaan Galungan. Ratusan personel diturunkan ke berbagai pura untuk memastikan umat dapat beribadah dengan aman dan nyaman. Sinergi antara aparat keamanan dan komunitas adat ini dinilai penting agar perayaan tetap berjalan dengan tertib.
Ekspresi Lokal di Berbagai Daerah
Perayaan Galungan tak hanya berlangsung di Bali. Di Kalimantan Utara, misalnya, umat Hindu merayakan di Pura Agung Jagat Benuanta di Tanjung Selor. Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Kaltara, Ida Bagus K. Sidharahardja, menyebut perayaan tersebut sebagai momen suci untuk menyucikan diri dan lingkungan, sekaligus meneguhkan komitmen terhadap nilai kebaikan.
Harapan di Balik Perayaan
Lebih dari sekadar ritual keagamaan, Galungan diharapkan menjadi pengingat akan pentingnya dharma dalam kehidupan modern. Di tengah tantangan digital, umat diajak untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kedalaman spiritual.
Para tokoh agama juga mendorong generasi muda untuk memaknai Galungan sebagai ajang introspeksi: mempertanyakan nilai-nilai mana yang harus dipertahankan, dan bagaimana melawan “adharma” dalam bentuk-bentuk baru yang muncul di era kontemporer.
Dengan semangat kemenangan dharma atas adharma, persembahyangan Galungan hari ini bukan hanya seremonial, melainkan juga simbol harapan bagi umat Hindu agar tetap teguh dalam nilai-nilai rohani, menjaga tradisi, dan merawat kedamaian di tengah dinamika zaman.

