3 Petarung UFC Tanpa Tato, Nomor Dua Dobrak Tradisi Pegulat Barat

3 Petarung UFC Tanpa Tato, Nomor Dua Dobrak Tradisi Pegulat Barat

ANGIN BERITA – Dalam dunia MMA dan UFC, banyak petarung memilih menghias tubuh mereka dengan tato. Tato sering dianggap sebagai simbol identitas, keberanian, kebanggaan, atau bahkan sebagai wujud penghormatan kepada keluarga, warisan budaya, dan perjalanan hidup. Namun, tidak semua petarung mengikuti tradisi ini ada beberapa nama besar yang memutuskan untuk tetap “bersih” tanpa satu goresan tinta pun. Menariknya, keputusan itu bukan sekadar soal estetika, tapi bisa merefleksikan latar belakang budaya, keyakinan pribadi, dan filosofi hidup mereka. Baru-baru ini sebuah daftar dari media Indonesia menyoroti tiga petarung UFC yang konsisten tanpa tato dan tetap berprestasi tinggi.

Tiga Petarung UFC Tanpa Tato

Khamzat Chimaev

  • Chimaev, petarung UFC asal Kaukasus/Dagestan, tampil tanpa tato keputusannya sesuai dengan banyak petarung dari kawasan tersebut yang memang menghindari tato.
  • Keputusan untuk tidak menato tubuh tampaknya tak memengaruhi performa: Chimaev tetap berada di level tertinggi UFC dan mencatat kemenangan gemilang, termasuk submission penting pada 2024.
  • Baginya, mungkin identitas di dalam dan luar octagon bukan diwakili oleh corak di kulit melainkan skill, disiplin, dan prestasi.

Jiri Prochazka

  • Prochazka, petarung UFC dari Republik Ceko, juga dikenal memilih untuk tidak menghias tubuhnya dengan tato keputusan yang oleh banyak orang dianggap melawan “tradisi pegulat Barat”.
  • Bukan karena ia kurang “gaya” atau ingin berbeda tanpa alasan melainkan bisa jadi karena keyakinan, nilai pribadi, atau filosofi hidup dan bertarung yang berbeda.
  • Fakta bahwa Prochazka tetap sukses di UFC menunjukkan bahwa tato bukan syarat untuk tampil mengesankan kemampuan, mental, dan konsistensi tetap jadi penentu.

Islam Makhachev

  • Juara UFC asal Dagestan ini juga termasuk petarung yang memilih tubuhnya tetap bebas tato dan ini sejalan dengan latar belakang budaya dan keagamaannya.
  • Keputusan ini bukan sekadar penampilan; bagi Makhachev, mempertahankan identitas dan keyakinan terkadang lebih penting daripada mengikuti tren.
  • Makhachev tetap menjadi figur dominan di UFC, membuktikan bahwa nilai teknis dan mentalitas juara tidak ditentukan oleh tato.

Mengapa Mereka Memilih Tanpa Tato

Keputusan ketiga petarung ini untuk tidak menato tubuh mereka bukan tanpa sebab. Beberapa faktor yang sering disebut sebagai alasan antara lain:

  • Budaya dan latar belakang Sebagian petarung dari kawasan seperti Kaukasus atau Rusia cenderung menghindari tato karena faktor budaya atau agama. Dalam kasus Makhachev dan Chimaev, keyakinan dan tradisi keluarga bisa jadi alasan utama.
  • Filosofi dan identitas pribadi Tato bukanlah satu-satunya cara mengekspresikan identitas atau perjalanan hidup. Bagi mereka, skill, kerja keras, dan prestasi di oktagon lebih mencerminkan siapa mereka.
  • Menolak stereotip atau tradisi “pegulat Barat” Banyak petarung di Barat memilih tato sebagai bagian dari image. Dengan tidak ikut arus tersebut seperti yang dilakukan Prochazka mereka menunjukkan bahwa keberhasilan tidak harus terpaut pada penampilan khas.

Prestasi tanpa tato: Bukti bahwa skill lebih penting

Meskipun tanpa tato, ketiga petarung ini bukanlah nama sembarangan:

  • Chimaev dikenal tajam dalam submission, dan masih masuk jajaran petarung papan atas.
  • Prochazka meskipun tubuhnya “bersih”, ia tetap mampu menarik perhatian dan menunjukkan kualitas tinggi dalam UFC.
  • Makhachev sebagai juara sekaligus petarung top ranking, ia menjelaskan bahwa keberhasilan tidak terkait dengan tato.

Keberadaan mereka membuktikan bahwa dalam olahraga penuh kontak seperti MMA, yang paling menentukan adalah kemampuan, kerja keras, dan karakter bukan penampilan luar seperti tato.

Makna Lebih Luas: Tato, Identitas, dan Keragaman

Fenomena petarung UFC tanpa tato memberi perspektif menarik soal identitas dan ekspresi diri di olahraga global seperti UFC. Di satu sisi, tato sering dianggap sebagai identitas khas pegulat tapi di sisi lain, ada keberagaman budaya, keyakinan, dan nilai yang membuat banyak atlet memilih berbeda.

Keputusan seperti yang dilakukan Chimaev, Prochazka, dan Makhachev menunjukkan bahwa identitas dan prestise tidak harus melekat pada simbol permanen seperti tato. Terlebih di era di mana atlet datang dari berbagai latar Eropa Timur, Asia, Timur Tengah, dan lainnya keberagaman ini menjadi bagian kekayaan UFC.

Selain itu, ini juga membuka ruang diskusi: apakah tato harus menjadi bagian dari “cit­a pegulat”? Atau seharusnya penilaian terhadap petarung lebih fokus pada kemampuan, karakter, dan hasil di oktagon?