ANGIN BERITA – Di tengah hiruk pikuk dan gemerlapnya kehidupan Ibu Kota, kisah ketekunan sering kali tersembunyi di balik kesederhanaan. Salah satunya adalah kisah Sumiati (65), seorang wanita paruh baya asal Boyolali, Jawa Tengah yang sejak tahun 1995 setia menjalani profesi sebagai penjual jamu tradisional keliling di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Setelah puluhan tahun berjuang menyisihkan rupiah demi rupiah, mimpi besarnya akhirnya terwujud: menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci.
Kisah Sumiati adalah potret nyata bahwa kerja keras yang dilandasi niat tulus dan kesabaran akan selalu membuka jalan menuju berkah. Di usianya yang menginjak senja, semangatnya tak pernah pudar. Setiap hari, ia meracik sendiri berbagai jenis jamu herbal dari kunyit asam, beras kencur, hingga pahitan lalu membawanya berkeliling, menawarkan kesegaran dan kesehatan kepada para pelanggan setianya.
Dua Setengah Dekade Perjuangan dengan Gendongan
Sumiati memulai usahanya jauh sebelum Jakarta mengenal kemacetan sepadat sekarang. Sejak tahun 1995, ia sudah menjajakan jamu. Kala itu, harga segelas jamu buatannya hanya Rp50. Ia mengingat jelas betapa sulitnya merintis usaha di kota besar tanpa sanak saudara.
Selama hampir dua setengah dekade, Sumiati menjajakan jamunya dengan cara digendong. Barulah sekitar dua bulan terakhir ini (sebelum berita ini ditulis), ia mulai menggunakan gerobak sederhana untuk meringankan beban di pundaknya.
“Biasanya saya gendong. Ini baru dua bulan pakai gerobak,” ujar Sumiati sambil tersenyum tulus, menunjukkan betapa panjang dan beratnya perjalanan yang telah ia tempuh.
Area perjalanannya terfokus di sekitar kawasan Pancoran, dengan beberapa titik mangkal utama, seperti di dekat Bank Bukopin dan di sekitar kantor NTMC Polri. Pagi hari adalah puncak kesibukannya, di mana banyak pekerja kantoran mencari minuman segar dan sehat sebelum memulai aktivitas. Harga jamu racikannya sangat terjangkau, berkisar antara Rp5.000 per gelas dan Rp10.000 per botol.
Ketulusan Hati di Balik Racikan Jamu
Lebih dari sekadar mencari nafkah, Sumiati dikenal memiliki hati yang lapang. Ia tak pernah ragu untuk menurunkan harga jamunya bagi pelanggan yang kurang mampu.
“Kalau orang enggak punya uang ya Rp3.000 juga enggak apa-apa. Namanya manusia harus saling tolong-menolong,” ucapnya tulus. Prinsip hidupnya yang mengedepankan pertolongan dan keikhlasan inilah yang diyakini menjadi salah satu rahasia berkah yang mengalir dalam hidupnya.
Setiap hari, ia menabung sedikit demi sedikit dari hasil keringatnya. Meskipun penghasilannya pas-pasan terkadang ramai, terkadang sepi Sumiati selalu menyisihkan sebagian rezekinya demi satu tujuan mulia: menginjakkan kaki di Tanah Suci Makkah dan Madinah.
Mimpi yang Terwujud di Usia Senja
Setelah bertahun-tahun berjuang dan menabung dengan gigih, cita-cita spiritual Sumiati akhirnya terwujud.
“Alhamdulillah saya sudah bisa umrah. Tahun kemarin setelah Lebaran,” katanya penuh rasa syukur, menunjuk pada waktu keberangkatannya.
Meskipun ia mengakui bahwa ia merupakan sebatang kara dan tidak ada yang mengantar saat di kampung, Sumiati percaya bahwa niat yang baik akan selalu dijaga oleh Tuhan.
“Walaupun saya sebatang kara di kampung, enggak ada yang mengantar, saya niat. Kalau niatnya baik, Allah jaga,” jelasnya.
Kisah perjalanan umrah Sumiati ini bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama di tengah materialisme kota besar. Ia membuktikan bahwa kemiskinan harta tidak menghalangi tercapainya mimpi spiritual, asalkan ada ketekunan, kejujuran, dan niat yang lurus. Setiap tetes keringat yang ia keluarkan saat berkeliling Jakarta, kini telah ditukar dengan kesempatan untuk beribadah di Baitullah, tempat suci yang ia dambakan.
Sumiati hingga kini masih aktif berjualan jamu, menyebarkan semangat dan kebaikan melalui racikan herbalnya. Dari gerobak sederhana di jalanan Pancoran, ia membawa pulang sebuah pelajaran berharga: bahwa kerja keras, sesederhana apapun, yang dilakukan dengan penuh keimanan akan selalu mendapatkan balasan yang indah.

